Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri politik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri politik. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 15, 2009

Kenapa benci dengan politik

Komunitas yang merasa bijak di Indonesia banyak sekali yang kurang respon dengan politik. Menurut mereka, politik hanyalah sebuah permainan kotor yang dimainkan oleh orang-orang yang rakus kekuasaan. Pendapat itu ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya.

Timbulnya pendapat semacam ini sebenarnya merupakan tanggung jawab media. Barangkali media memiliki tujuan mulia pada awalnya, agar kefanatikan seseorang terhadap suatu partai/tokoh politik tidak terlalu berlebihan. Namun, karena terlalu seringnya pemberitaan yang negatif terhadap politik dan politisi, sikap acuh kepada politik kemudian menjadi trend. Orang, apalagi anak muda, merasa intelek kalau mengabaikan proses politik.

Ungkapan-ungkapan aku tidak mau memilih, ah semuanya 'kan sama menjadi satu kalimat yang seakan-akan paling bijak.

Padahal politik adalah suatu sistem yang mengatur proses pengambilan kebijakan dalam negara. Meski tidak langsung, politik sangat berpengaruh kepada kehidupan anak bangsa. Oleh karenanya, perlu kiranya dipertimbangkan, apakah sikap tidak acuh kepada politik baik atau tidak. Ingat, kaum golput pada masa lalu justru orang-orang yang sangat peduli kepada politik.

Sabtu, September 24, 2016

Definisi Politik Menurut Politisi Indonesia

Hangatnya pilkada Jakarta menjadi perhatian perpolitikan Indonesia. Tetapi ada satu hal yang menarik. Dalam perbincangan yang terjadi, keluar istilah-istilah di antaranya definisi mengenai politik.

Selasa, Desember 18, 2018

Struktur Organisasi Kementerian Dalam Negeri 2018

Melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 tahun 2018, Struktur Organisasi Kementerian Dalam Negeri sebagaimana Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 2015 telah berubah.

Rabu, Juni 24, 2009

Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar

Seandainya saja melanjutkan chemistry SBY-JK, barangkali tidak akan ada protes dari masyarakat tentang jargon pemilu satu putaran. Bahkan seandainya LSI mengatakan keterpilihan pasangan ini 80% atau lebih, mungkin umum bisa menerima. Lalu kenapa SBY begitu ngotot memilih Boediono? Apakah SBY telah melakukan suatu kesalahan keputusan?

Sabtu, April 13, 2019

Referensi Blog Politik 2019

Politik merupakan sesuatu yang mulanya tidak disukai oleh masyarakat dunia maya. Tetapi menjelang Pilkada Jakarta 2011, isu politik mulai ramai di media.

Kamis, Mei 26, 2016

JK-Win

Tulisan ini merupakan tulisan saat masa-masa kampanye pilpres JK-Win. Terpengaruh blog JK di kompasiana, maka saya mencurahkan hati saya melalui tulisan-tulisan di blog ini.

Jumat, Juni 27, 2014

Tanggapan atas baju nazi Ahmad Dhani

Video klip Ahmad Dhani We Will Rock You dipermasalahkan oleh media Jerman Der Spiegel. Menurut Der Spiegel Video Politik Indonesia bikin Alis Terangkat karena simbol-simbol nazi. Media Israel, Times of Israel menulis Video Sok Nazi Indonesia bikin heboh. Apa tanggapan atas baju nazi ahmad dhani tersebut?

Sabtu, Juli 11, 2009

Skenario besar yang memukau

Dunia politik Indonesia adalah sinetron politik yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat sulit ditebak, apalagi oleh seorang yang seawam saya. Tetapi sinetron politik tersebut menyuguhkan jalan cerita yang enak untuk dicermati. Salah satunya, penampilan seorang tokoh cerita bernama Jusuf Kalla. Skenario PKS
Skenario pertama yang berkaitan dengan Jusuf Kalla adalah skenario yang dimainkan PKS. Meskipun Hidayat Nur Wahid sudah populer sebagai salah satu kandidat cawapres dalam polling-polling yang diadakan lembaga survey, tetapi elektabilitas HNW sebagai cawapres masih jauh di bawah JK. Di samping sebagai cawapres incumbent, JK sangat berpeluang untuk melanjutkan kebersamaannya dengan SBY.

Isu peran JK yang terlalu menonjol kemudian dibesar-besarkan PKS. Peran JK di samping SBY yang begitu kuat ditafsirkan dualisme kepresidenan. Kondisi yang tentunya sangat mengkhawatirkan. Dengan isu ini PKS berhasil mencampakkan JK dan memberi peluang kepada HNW.

Tetapi koalisi lain tidak tinggal diam, PKB misalnya membuat manuver dukungan kiai kepada Muhaimin Iskandar sebagai cawapres. Manuver paling besar diusung PAN. PAN kemudian berhasil mengangkat nama Hatta Rajasa. Manuver-manuver tersebut pada akhirnya membuat SBY bulat mengangkat Boediono, orang yang bahkan tidak pernah disebut-sebut namanya sebelumnya sebagai cawapres.

Meski PKS tidak berhasil mencapai tujuan politiknya, tetapi JK telah terlempar dari sisi SBY. Kenyataan yang menimbulkan geram Mufidah dengan mengistilahkan "Habis manis sepah dibuang." SBY dinilai Mufidah hanya menjadikan JK sebagai bumper semata.

Isu Triple A
JK bukanlah berangkat dari kepengurusan Golkar. JK semula hanyalah kader biasa yang beruntung menjadi Menperidag. Posisi inilah yang pada awalnya mengantarkan JK sebagai salah satu anggota Dewan Pembina Golkar. Ketika JK akhirnya digandeng SBY, JK pun sempat dipecat dari Golkar.

Keberhasilan pasangan SBY-JK menjadi pemimpin Indonesia mau tidak mau harus dimanfaatkan Golkar. Dengan menjadikan Kalla sebagai Ketua Umum, Golkar akhirnya lepas dari nasib sebagai oposisi, posisi yang tidak diingini oleh Golkar. Tetapi bagaimanapun, Golkar tidak nyaman di bawah kepemimpinan Kalla. Nasib Golkar sebagai salah satu partai yang menerima imbas badai Demokrat, meski masih beruntung menempati posisi nomor 2, harus dipertanggungjawabkan Kalla.

Tetapi isu tersebut ternyata tidak cukup. Para pimpinan Golkar kemudian berpura-pura mendukung JK sebagai capres. Namun tidak sampai dalam tempo 24 jam, para pimpinan daerah Golkar kemudian menyatakan kekecewaannya atas deklarasi tersebut. Gerilya politik dijalankan. Para pengurus Golkar daerah kemudian bersikap pasif dalam kampanye pemenangan JK-Win. Sementara itu di pusat, pengurus partai Golkar sibuk mengadakan manuver-manuver, di antaranya isu Munaslub dipercepat.

Langkah yang disusun Triple A ternyata mulus, JK-Win mengalami kekalahan yang sangat telak. Dengan sendirinya, tidak ada alasan bagi JK untuk mempertahankan jabatan Ketua Umumnya.

Langkah Kalla ke depan
JK telah menjalani takdirnya. Ketika SBY belum memiliki dana yang cukup untuk kampanye di 2004, JK dimanfaatkan. Ketika dana tidak dipermasalahkan, JK akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak begitu diperlukan.

Ketika Golkar membutuhkan kekuatan untuk ikut serta dalam kabinet, Golkar memanfaatkan JK. Ketika kekuatan tersebut sudah hilang, JK harus menerima nasib dibuang Golkar.

Agar tidak begitu terpuruk, SBY kemudian "menyelamatkan" sahabatnya ini. Daniel Sparingga dari Universitas Airlangga menyarankan JK menerima peran sebagai duta perdamaian.

Sebaliknya, pengamat yang lain mengharapkan JK untuk beroposisi. Posisi yang tentu saja tidak akan mungkin dijalankan JK tanpa partai.

Kedua skenario tersebut sama-sama buruk dan sama-sama baik.
Buruknya, skenario pertama hanyalah bentuk lain "pemanfaatan" JK, namun masih dapat mengangkat harga diri JK, sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa JK toh masih berharga.

Skenario kedua hanyalah memperparah citra JK, sebagai kandidat yang dianggap tidak "diperhitungkan" maka oposisi JK dengan kendaraan Golkar sebagai partai yang dikenal tidak memiliki visi dan misi yang jelas hanyalah dianggap sebagai suara orang yang kalah. Tetapi seandainya JK didukung oleh partai yang memang betul-betul senada dengan visi dan misinya di saat kampanye, tentu peran oposisi JK masih dapat dihargai.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Sabtu, Juni 20, 2009

Membantu dan politik uang

Apa sih pengertian politik uang? Tindakan Jusuf Kalla membantu Erlin Dewi yang terlilit hutang Rp. 5 juta diindikasikan Panwaslu SOlo sebagai politik uang. Apakah benar atau tidak?

Sabtu, Juni 13, 2009

Peranan Muhammadiyah dalam perpolitikan Indonesia

Muhammadiyah dan NU sebagai dua ormas terbesar di Indonesia sangat menarik dilihat dalam peristiwa-peristiwa politik, termasuk pilpres 2009. Arah dukungan Muhammadiyah yang sifatnya tidak terang-terangan harus dipahami sebagai ketentuan yang terpaksa diambil karena keterikatan pada khittah. Terikat oleh khittah, Muhammadiyah tidak dapat memberikan dukungan bulat kepada satu pasangan capres atau partai tertentu, karena bagaimanapun untuk membulatkan dukungan butuh kesepakatan bersama dan sesuai dengan khittahnya, Muhammadiyah tidak mungkin mengadakan rapat nasional khusus untuk menentukan pilihan politiknya.

Kamis, Juni 11, 2009

Mengukur Kekuatan Politik dan Kemampuan Personal JK-Win

Mengapa JK harus memilih Wiranto? Bagaimana kekuatan politik mereka? Dan bagaimana kemampuan personal calon pemimpin Indonesia ini?

Aryos Nivida, Aktivis ACSTF menulisnya di Harian Aceh sebagai berikut:

Kamis, April 25, 2019

25 Negara Terkuat di Dunia Tahun 2019

Business Insider 2 Maret 2019 mempublikasikan US News and World Report Ranking yang melihat pengaruh keuangan dan politik, aliansi, kekuatan militer dan bagaimana negara tersebut berlaku sebagai pemimpin dunia. Berkolaborasi dengan Universitas Pensylvania yang mensurvey 20.000 orang tentang pendapatnya mengenai 80 negara, dirilis negara-negara terkuat di dunia.

Jumat, April 19, 2019

Silsilah Gerindra dengan Sumpah Pemuda dan Budi Utomo

Pemimpin Oposisi 2014-2019, Capres Prabowo Subianto dikaitkan dengan khilafah, wahabi dan Soeharto. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa pada Pemilu 2014, Prabowo Subianto memakai simbol-simbol Soekarno.

Minggu, Desember 09, 2018

Tanggapan Penjajah Pun Membangun : Gatot dan Tengku

Pembangunan infrastruktur tanpa kejelasan manfaat ekonomi bagi masyarakat tidak ada artinya. Hal ini sekurang-kurangnya seperti yang dinyatakan oleh Panglima Gatot Nurmantyo dan Tuan Guru al Ittihadiyah Prof. Tengku Zulkarnain.

Jumat, Mei 27, 2016

SBY

Tulisan-tulisan tentang SBY terutama masa pilpres. Pada saat itu saya simpatisan JK-Win, jadi mohon maaf kalau banyak materinya yang negatif. Namanya, terbawa arus politik SAAT ITU.

Berikut tulisannya :

  1. Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar?
  2. Kegagalan SBY dan JK
  3. Jusuf Kalla dan Golkar
  4. Koalisi Prabowo dan JK ke SBY, mungkinkah?
  5. Kreativitas Inisial Pasangan Capres
  6. Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar
  7. Mungkinkah SBY dikalahkan?
  8. Demi satu putaran, rasionalitas pun diabaikan
  9. Neo Orbais dan Neo Liberalis
  10. Apa sih keunggulan SBY?
  11. Akankah Golkar jadi PKB kedua?
  12. Skenario besar yang memukau
  13. Kenapa Mallarangeng tidak dipecat?
  14. Etika Politik, salah satu kata kunci SBY untuk membatasi langkah JK
  15. Ada apa di balik slogan SBY?
  16. Mungkinkah Pilpres satu Putaran?
  17. Divide et Impera
  18. Hasil Poling SMS memenangkan JK-Win
  19. Motivasi Pengeboman JW Marriot dan Ritz Carlton
  20. Negeri Sihir
  21. Dekan Pascasarjana Universitas Tarumanegara orang comberan
  22. Perubahan gaya iklan SBY-JK
  23. Perang Survey semakin marak
  24. Kemenangan JK-Win akhir dagang sapi
  25. Keluarga Mallarangen yang prestisius
  26. Akhirnya JK-Win gantung sepatu
  27. Polling SMS Debat Capres di TV One, SBY Unggul, JK Win naik
  28. Kemenangan SBY dibatalkan
  29. Susunan Kabinet SBY
  30. Paranormalisasi kemenangan JK-Win
  31. Kampanye dengan cara survey
  32. Pemekaran menjadi tema kampanye SBY
  33. Black campaign dengan tuduhan black campaign
  34. Di balik hak angket DPT Pilpres
  35. Perang Purnawirawan dalam Pilpres 2009
  36. Dua dari 3 M menjadi menteri
  37. Susunan Kabinet SBY
  38. Susunan Kabinet SBY
  39. Terbukti Golkar Partai Oportunis
  40. Pendidikan Politik Sudah Gagal
  41. Kalau kampanye tidak saling serang
  42. Tim Siluman
  43. Rusli Zainal pun tertarik publikasi blog
  44. Bantulah yang lemah
  45. Manuver PPP dalam Pilpres
  46. Isu HAM di tengah kampanye Pilpres
  47. Mungkinkah orang luar jawa dapat terpilih
  48. Perang Survey
  49. Keunggulan Pengusung Prabowo daripada pengusung Jokowi
  50. Perang Palu
  51. Buntut terorisme KPU dijaga ketat
  52. Tim Sukses
  53. Perbandingan para kandidat capres/cawapres
  54. Koalisi partai-partai pada pilpres 2009
  55. Menggagas ekonomi kebangsaan
  56. Masa depan Golkar pasca pilpres 2009

Jumat, Maret 04, 2016

Struktur Organisasi Kementerian Dalam Negeri

Peraturan Menteri Dalam Negeri No 43 Tahun 2015, telah mengubah struktur organisasi Kementerian Dalam Negeri sebagai berikut :

Selasa, April 24, 2012

Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar

Selasa, 3 April 2012 diadakan pertemuan di Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut hadi pimpinan partai koalisi, yakni:

  1. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa
  2. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
  3. Ketua Umum PKB Muhaimain Iskandar
  4. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum
  5. Ketua Umum PPP Suryadarma Ali (SDA)

Rabu, Agustus 19, 2009

Usul tidak populer dari pecundang yang populer

Abdul Hafiz Anshary, pecundang Pilkada Kalimantan Selatan yang populer dengan ketidakbecusan kinerjanya selama menjabat sebagai Ketua KPU membuat sebuah usulan yang sangat tidak populer di era demokrasi ini, yaitu pengembalian pemilihan gubernur oleh DPRD. Jika usulan ini jadi dilaksanakan, mungkin usulan-usulan untuk mundur ke belakang seperti pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR dan sebagainya akan dengan gampang ditelorkan.


Alasan mendasar dikeluarkannya usulan tersebut oleh si "pecundang yang tidak becus" adalah tidak lain masalah biaya. Menurut Hafiz, biaya yang dikeluarkan selama pilkada sangat besar. Hafiz yang mengalami kekalahan dalam pilgub menyatakan bahwa pilkada juga syarat dengan politik uang, meski pemilihan oleh DPRD juga syarat politik uang.

Masalahnya mungkin hanya satu, politik uang yang dijalankan untuk pemilihan DPRD resikonya lebih kecil. Kalau seseorang sudah berhasil menyuap anggota DPRD dapat dipastikan dia bisa duduk tenang menunggu saat-saat Hari Hnya saja, sebaliknya money politic dalam pilkada memiliki resiko yang sangat besar. Bisa jadi, pada hari H, masyarakat pemilih justeru bertindak berdasarkan hati nuraninya. Selain itu, menyuap masyarakat jauh lebih susah daripada menyuap anggota DPRD yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau permasalahannya biaya, seharusnya KPU berpikir bagaimana caranya pembiayaan pilkada menjadi lebih irit dan terhadap masalah money politic, KPU pun harus merancang suatu sistem pemilihan yang lebih ketat.

Tidak mau ambil pusing
KPU di zaman Hafiz terkesan tidak mau ambil pusing dan berusaha mengurangi kerja-kerja yang menjadi bebannya. Lihat saja pelaksanaan pileg dan pilpres. Setiap ada masalah KPU mengabaikannya dan melemparkannya ke MK.

Pilkada pun akan menjadi beban kerja KPU. Oleh karenanya, biar kerjanya lebih enteng, KPU berusaha mengurangi pilkada, yakni dengan menghapuskan pilkada gubernur.

Pertanyaannya: Kalau memang tidak mau menanggung beban, kenapa mau jadi komisioner KPU?

Selasa, Juni 16, 2009

Keluarga Mallarangeng yang prestisius

Mallarangeng, nama itu tiba-tiba saja begitu terkenal. Peran Rizal Mallarangeng sebagai juru bicara SBY yang menghebohkan, Fox yang dikomandani Choel Mallarangeng dan tingkah pola Andi (Alfian) sang jubir kepresidenan. Meski pro dan kontra, harus diakui bahwa Mallarangeng bersaudara sangat prestisius. Ganteng, muda, pintar dan kaya.

Minggu, Juni 28, 2009

Menyimak jejak langkah Chairul Saleh

Dr. Chairul Saleh adalah salah satu di antara tiga Waperdam Soekarno pada masa G30S PKI,di samping Dr. Soebandrio dan Dr. J. Leimena. Dr. Chairul Saleh saat itu menjabat sebagai Waperdam III. Tokoh penggagas utama Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ini ditangkap tanpa alasan yang jelas oleh Soeharto saat menjabat sebagai Ketua MPRS 1967 dan meninggal di tahanan. Tokoh yang menolak modal asing ini, alumni Universitas Bonn, Jerman ini, hanya membolehkan masuknya modal asing jika setuju dengan profit sharing.