Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pkb. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pkb. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 05, 2015

Pro Kontra PAN masuk kabinet

Partai Amanat Nasional pimpinan Zulkifli Hasan memutuskan untuk mendukung pemerintah dan masuk ke kabinet. Apa tanggapan atas hal ini?

Senin, April 17, 2017

Prediksi Koalisi Pilkada Pilgubri 2018 Riau

Tahun ini, Riau akan disibukkan agenda pendaftaran Pemilihan Gubernur Riau. Pertanyaannya, siapa-siapa yang akan menjadi Bakal Calon Gubernur Riau? Tetapi, sebelum melaju ke situ, penting diprediksi kemungkinan koalisi parpol? Koalisi parpol apa saja yang akan terbentuk?

Sabtu, Juni 28, 2014

Kampanye korupsi Prabowo bisa blunder

Meskipun Gerindra, partai pendukung utama Prabowo hanya menempati peringkat ke-7 dengan indeks 1,9 dibandingkan PDIP partai pendukung utama Jokowi yang menempati peringkat ke-1 partai terkorup di Indonesia dengan indeks 7,7, kampanye korupsi Prabowo tetap bisa menjadi blunder.

Senin, Agustus 03, 2009

Akankah Golkar jadi PKB kedua?

Pasca pilpres Golkar terbelah dua. Berpecahnya SBY - JK menyebabkan Golkar menjadi dua kekuatan, yakni kubu pro JK dan kubu pro SBY. Kedua kubu saat ini akan bertarung dalam Munaslub Golkar. Kubu SBY dimotori oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono berencana mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Kubu JK telah membentuk Tim Pemenangan Yuddy Chrisnandy dengan Ketua Tim Sukses Zainal Bintang, Manajer Kampanye Indra J. Piliang, mantan anggota tim sukses JK pada pilpres lalu.

Namun informasi yang beredar luas, formasi yang diusung kubu JK adalah Surya Paloh sebagai Ketua Umum, Siswono Yudhohusodo sebagai Wakil Ketua Umum dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat.

Pertarungan kedua kubu ini akan sangat panas. Aburizal Bakrie sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan didukung SBY sebagai pemerintah berpeluang besar untuk menang. Aburizal Bakrie atau yang disapa Ical berjanji akan membangkitkan kebesaran Golkar.

Siapa pun yang duduk berkeinginan kuat untuk menjadikan Golkar besar kembali seperti Pemilu 2004. Tetapi kondisi yang dihadapi Golkar jauh berubah. Tahun 2004 adalah tahun kekecewaan pemilih kepada partai-partai reformis yang dianggap bukan saja kurang becus mengurus negara, tetapi kebersihannya juga lebih kurang sama dengan partai-partai yang selama ini disudutkannya. Oleh karenanya, masyarakat teringat nostalgia lama, Golkar dan Soeharto. Pada pemilu 2004, masyarakat memilih Golkar sebagai partai warisan Orde Baru dan memilih SBY yang dianggap memiliki karakteristik Soeharto, tidak banyak bicara, tenang dan militer.

2014 nostalgia-nostalgia orde baru dan soeharto sudah hilang dari benak masyarakat. Jika pemerintahan SBY tidak melakukan kesalahan yang fatal, nostalgia yang terjadi adalah nostalgia SBY dan Demokratnya. Akankah Golkar sanggup melawan?

Sebagai partai yang diisi kaum-kaum oportunis, kader-kader Golkar yang merasa peluang Golkar menyusut tentu saja akan mudah pindah perahu. Jika kubu SBY kalah, mungkin mereka akan migrasi besar-besaran ke Demokrat. Demikian pula, jika kubu JK kalah, mungkin juga akan migrasi besar-besaran ke PDIP atau Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, yang sampai saat ini masih calon terkuat capres pengganti SBY. Lalu, Golkar akan dikosongkan, seperti PKB pasca pertikaian Gus Dur Muhaimin. Dan mungkin, Golkar akan mengalami nasib yang sama seperti PKB? Siapa tahu.

Tulisan ini bagian dari :

  1. SBY
  2. Golkar

Kamis, Mei 28, 2009

Dibalik Hak Angket DPT Pilpres

Koalisi yang dibangun Golkar dan PDIP berhasil menarik dukungan bukan hanya koalisi besar, tetapi juga dari partai-partai koalisi Demokrat yakni PAN, PPP dan PKB. Keberhasilan koalisi ini, tentu saja menggeramkan Demokrat. Ada apa di balik keberhasilan pengajuan hak angket tersebut?

Kamis, Mei 23, 2019

Perkembangan Perolehan Kursi DPR 2014 - 2019

Meskipun menempati posisi kedua dalam perolehan suara, namun dari segi perolehan kursi Partai Gerindra hanya menempati posisi ketiga. Hal yang sama juga dialami oleh PKB yang perolehan suaranya di posisi keempat, sementara dalam perolehan kursi diperkirakan menempati posisi kelima.

Selasa, Juli 21, 2009

Dua dari 3M jadi menteri

Beredar susunan kabinet SBY Boediono. Dua dari trio Mallarangeng yakni Rizal Mallarangeng dan Andi Mallarangeng menjadi menteri. Andi sebagai Mendagri dan Rizal sebagai Menkominfo. Dari kabinet lama, hanya beberapa orang saja yang kembali menjadi menteri, yakni: Lukman Edy, Sri Mulyani, Sofyan Jalil.

Jumat, Juni 12, 2009

Kamis, April 18, 2019

Keambiguan Demokrat

Demokrat merasa menjadi korban politik identitas yang dimainkan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi. Benarkah demikian?

Sabtu, April 13, 2019

Prediksi 9 Partai Parlemen 2019-2024

Empat hari lagi akan diadakan pemungutan suara Pemilihan Umum 17 April 2019. Dari 16 partai politik peserta pemilu, 9 partai diprediksi lolos ke Senayan sementara 7 partai harus gigit jari.

Senin, April 08, 2019

Tiga Kategori Partai Politik Indonesia

Banyaknya Partai Politik di Indonesia menyebabkan masyarakat kesulitan untuk memilih partai secara murni, kecuali adanya pertimbangan dengan seseorang yang berkepentingan dengan partai tersebut yakni pengurus atau pejabat meliputi legislator yang diusung partai.

Ketika seorang tokoh meloncat, para pendukungnya juga mengikuti loncatan tersebut. Namun demikian tidak serta merta loncatan tokoh tersebut diikuti, yakni ketika sang tokoh meloncat keluar dari pagar kategori parpol.

Sabtu, April 06, 2019

Loyalitas Pendukung Partai Pilpres 17 April 2019

Bendera Golkar berkibar dalam kampanye Prabowo Sandi di Makassar, sebaliknya logo Jokowi Makruf menghiasi baliho caleg Demokrat di Jawa Timur.Fenomena tersebut menunjukkan dukungan pendukung partai tidak selalu sejalan dengan pilihan pengurus Partai.

Partai Ekor Jas

Dalam Pilpres 2019, hanya ada empat partai ekor jas, yakni :
  1. PDIP dan Nasdem bagi pasangan Jokowi Makruf.
  2. Gerindra dan PKS bagi pasangan Prabowo Sandi.
Para pendukung kedua capres mengartikan hanya keempat partai tersebut yang betul-betul merupakan pengusung sejati kedua pasangan capres. Karenanya, kedua partai tersebut yang mendapatkan keuntungan dan kerugian dari kedua pasangan capres.

Jumat, Desember 02, 2016

Perjalanan Politik Ahmad Dhani

Dhani Ahmad Prasetyo mulanya hanya rocker Dewa 19 dengan barisan pengagum yang disebut Baladewa. Kemudian, Ahmad Dhani berjaya dengan Manajemen Artis Republik Cinta. Dia pun mampu mengorbitkan putranya sebagai artis papan atas Indonesia.

Jumat, September 23, 2016

Misteri Agus Silvi dalam Pilkada DKI

Tiba-tiba saja, nama Agus Harimurti Yudhoyono tampil menjadi pasangan Cagub – Cawagub Jakarta dari Poros Cikeas yang terdiri dari Demokrat, PAN, PPP dan PKB. Nama Yusril Ihza Mahendra yang selama ini gencar disebut-sebut Koalisi Kekeluargaan, hilang begitu saja.

Sabtu, Mei 28, 2016

Golkar

Golkar adalah partai terbesar di era Orde Baru. Saat ini masih merupakan 2 besar di Indonesia, sehingga kepengurusannya senantiasa direbutkan.

Jumat, Mei 27, 2016

SBY

Tulisan-tulisan tentang SBY terutama masa pilpres. Pada saat itu saya simpatisan JK-Win, jadi mohon maaf kalau banyak materinya yang negatif. Namanya, terbawa arus politik SAAT ITU.

Berikut tulisannya :

  1. Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar?
  2. Kegagalan SBY dan JK
  3. Jusuf Kalla dan Golkar
  4. Koalisi Prabowo dan JK ke SBY, mungkinkah?
  5. Kreativitas Inisial Pasangan Capres
  6. Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar
  7. Mungkinkah SBY dikalahkan?
  8. Demi satu putaran, rasionalitas pun diabaikan
  9. Neo Orbais dan Neo Liberalis
  10. Apa sih keunggulan SBY?
  11. Akankah Golkar jadi PKB kedua?
  12. Skenario besar yang memukau
  13. Kenapa Mallarangeng tidak dipecat?
  14. Etika Politik, salah satu kata kunci SBY untuk membatasi langkah JK
  15. Ada apa di balik slogan SBY?
  16. Mungkinkah Pilpres satu Putaran?
  17. Divide et Impera
  18. Hasil Poling SMS memenangkan JK-Win
  19. Motivasi Pengeboman JW Marriot dan Ritz Carlton
  20. Negeri Sihir
  21. Dekan Pascasarjana Universitas Tarumanegara orang comberan
  22. Perubahan gaya iklan SBY-JK
  23. Perang Survey semakin marak
  24. Kemenangan JK-Win akhir dagang sapi
  25. Keluarga Mallarangen yang prestisius
  26. Akhirnya JK-Win gantung sepatu
  27. Polling SMS Debat Capres di TV One, SBY Unggul, JK Win naik
  28. Kemenangan SBY dibatalkan
  29. Susunan Kabinet SBY
  30. Paranormalisasi kemenangan JK-Win
  31. Kampanye dengan cara survey
  32. Pemekaran menjadi tema kampanye SBY
  33. Black campaign dengan tuduhan black campaign
  34. Di balik hak angket DPT Pilpres
  35. Perang Purnawirawan dalam Pilpres 2009
  36. Dua dari 3 M menjadi menteri
  37. Susunan Kabinet SBY
  38. Susunan Kabinet SBY
  39. Terbukti Golkar Partai Oportunis
  40. Pendidikan Politik Sudah Gagal
  41. Kalau kampanye tidak saling serang
  42. Tim Siluman
  43. Rusli Zainal pun tertarik publikasi blog
  44. Bantulah yang lemah
  45. Manuver PPP dalam Pilpres
  46. Isu HAM di tengah kampanye Pilpres
  47. Mungkinkah orang luar jawa dapat terpilih
  48. Perang Survey
  49. Keunggulan Pengusung Prabowo daripada pengusung Jokowi
  50. Perang Palu
  51. Buntut terorisme KPU dijaga ketat
  52. Tim Sukses
  53. Perbandingan para kandidat capres/cawapres
  54. Koalisi partai-partai pada pilpres 2009
  55. Menggagas ekonomi kebangsaan
  56. Masa depan Golkar pasca pilpres 2009

Selasa, April 24, 2012

Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar

Selasa, 3 April 2012 diadakan pertemuan di Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut hadi pimpinan partai koalisi, yakni:

  1. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa
  2. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
  3. Ketua Umum PKB Muhaimain Iskandar
  4. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum
  5. Ketua Umum PPP Suryadarma Ali (SDA)

Sabtu, Juli 11, 2009

Skenario besar yang memukau

Dunia politik Indonesia adalah sinetron politik yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat sulit ditebak, apalagi oleh seorang yang seawam saya. Tetapi sinetron politik tersebut menyuguhkan jalan cerita yang enak untuk dicermati. Salah satunya, penampilan seorang tokoh cerita bernama Jusuf Kalla. Skenario PKS
Skenario pertama yang berkaitan dengan Jusuf Kalla adalah skenario yang dimainkan PKS. Meskipun Hidayat Nur Wahid sudah populer sebagai salah satu kandidat cawapres dalam polling-polling yang diadakan lembaga survey, tetapi elektabilitas HNW sebagai cawapres masih jauh di bawah JK. Di samping sebagai cawapres incumbent, JK sangat berpeluang untuk melanjutkan kebersamaannya dengan SBY.

Isu peran JK yang terlalu menonjol kemudian dibesar-besarkan PKS. Peran JK di samping SBY yang begitu kuat ditafsirkan dualisme kepresidenan. Kondisi yang tentunya sangat mengkhawatirkan. Dengan isu ini PKS berhasil mencampakkan JK dan memberi peluang kepada HNW.

Tetapi koalisi lain tidak tinggal diam, PKB misalnya membuat manuver dukungan kiai kepada Muhaimin Iskandar sebagai cawapres. Manuver paling besar diusung PAN. PAN kemudian berhasil mengangkat nama Hatta Rajasa. Manuver-manuver tersebut pada akhirnya membuat SBY bulat mengangkat Boediono, orang yang bahkan tidak pernah disebut-sebut namanya sebelumnya sebagai cawapres.

Meski PKS tidak berhasil mencapai tujuan politiknya, tetapi JK telah terlempar dari sisi SBY. Kenyataan yang menimbulkan geram Mufidah dengan mengistilahkan "Habis manis sepah dibuang." SBY dinilai Mufidah hanya menjadikan JK sebagai bumper semata.

Isu Triple A
JK bukanlah berangkat dari kepengurusan Golkar. JK semula hanyalah kader biasa yang beruntung menjadi Menperidag. Posisi inilah yang pada awalnya mengantarkan JK sebagai salah satu anggota Dewan Pembina Golkar. Ketika JK akhirnya digandeng SBY, JK pun sempat dipecat dari Golkar.

Keberhasilan pasangan SBY-JK menjadi pemimpin Indonesia mau tidak mau harus dimanfaatkan Golkar. Dengan menjadikan Kalla sebagai Ketua Umum, Golkar akhirnya lepas dari nasib sebagai oposisi, posisi yang tidak diingini oleh Golkar. Tetapi bagaimanapun, Golkar tidak nyaman di bawah kepemimpinan Kalla. Nasib Golkar sebagai salah satu partai yang menerima imbas badai Demokrat, meski masih beruntung menempati posisi nomor 2, harus dipertanggungjawabkan Kalla.

Tetapi isu tersebut ternyata tidak cukup. Para pimpinan Golkar kemudian berpura-pura mendukung JK sebagai capres. Namun tidak sampai dalam tempo 24 jam, para pimpinan daerah Golkar kemudian menyatakan kekecewaannya atas deklarasi tersebut. Gerilya politik dijalankan. Para pengurus Golkar daerah kemudian bersikap pasif dalam kampanye pemenangan JK-Win. Sementara itu di pusat, pengurus partai Golkar sibuk mengadakan manuver-manuver, di antaranya isu Munaslub dipercepat.

Langkah yang disusun Triple A ternyata mulus, JK-Win mengalami kekalahan yang sangat telak. Dengan sendirinya, tidak ada alasan bagi JK untuk mempertahankan jabatan Ketua Umumnya.

Langkah Kalla ke depan
JK telah menjalani takdirnya. Ketika SBY belum memiliki dana yang cukup untuk kampanye di 2004, JK dimanfaatkan. Ketika dana tidak dipermasalahkan, JK akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak begitu diperlukan.

Ketika Golkar membutuhkan kekuatan untuk ikut serta dalam kabinet, Golkar memanfaatkan JK. Ketika kekuatan tersebut sudah hilang, JK harus menerima nasib dibuang Golkar.

Agar tidak begitu terpuruk, SBY kemudian "menyelamatkan" sahabatnya ini. Daniel Sparingga dari Universitas Airlangga menyarankan JK menerima peran sebagai duta perdamaian.

Sebaliknya, pengamat yang lain mengharapkan JK untuk beroposisi. Posisi yang tentu saja tidak akan mungkin dijalankan JK tanpa partai.

Kedua skenario tersebut sama-sama buruk dan sama-sama baik.
Buruknya, skenario pertama hanyalah bentuk lain "pemanfaatan" JK, namun masih dapat mengangkat harga diri JK, sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa JK toh masih berharga.

Skenario kedua hanyalah memperparah citra JK, sebagai kandidat yang dianggap tidak "diperhitungkan" maka oposisi JK dengan kendaraan Golkar sebagai partai yang dikenal tidak memiliki visi dan misi yang jelas hanyalah dianggap sebagai suara orang yang kalah. Tetapi seandainya JK didukung oleh partai yang memang betul-betul senada dengan visi dan misinya di saat kampanye, tentu peran oposisi JK masih dapat dihargai.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Rabu, Juni 24, 2009

Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar

Seandainya saja melanjutkan chemistry SBY-JK, barangkali tidak akan ada protes dari masyarakat tentang jargon pemilu satu putaran. Bahkan seandainya LSI mengatakan keterpilihan pasangan ini 80% atau lebih, mungkin umum bisa menerima. Lalu kenapa SBY begitu ngotot memilih Boediono? Apakah SBY telah melakukan suatu kesalahan keputusan?

Selasa, Juni 09, 2009

Kemenangan JK-Win, akhir dagang sapi

Ada hal yang mengherankan dari politik Indonesia. Pemerintahan Indonesia adalah Kabinet Presidentil, namun anehnya pasangan yang diajukan merupakan hasil dagang sapi dari koalisi partai-partai layaknya negara-negara parlementer. Koalisi yang berdagang bisa berasal dari aneka ragam pandangan ideologis yang berbeda-beda, bahkan bisa jadi bertentangan. Lalu kabinet seperti apa yang dihasilkan?