Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pdip. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri pdip. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Prediksi Koalisi Pilkada Pilgubri 2018 Riau

Tahun ini, Riau akan disibukkan agenda pendaftaran Pemilihan Gubernur Riau. Pertanyaannya, siapa-siapa yang akan menjadi Bakal Calon Gubernur Riau? Tetapi, sebelum melaju ke situ, penting diprediksi kemungkinan koalisi parpol? Koalisi parpol apa saja yang akan terbentuk?

Jusuf Kalla dan Golkar

Acara Presiden Pilihan yang ditaja TV One bekerja sama dengan KADIN terbilang sukses. Dua pembicara yang tampil, berhasil memukau pemirsa. Teristimewa bagi JK. JK yang semula kurang optimal mempromosikan dirinya, sekarang mendapat kesempatan. JK yang mungkin selama ini masih ragu-ragu berhadapan dengan SBY, karena takut akan menjadi bumerang seandainya bekerja sama kembali dengan SBY, dapat menyampaikan segala yang menjadi kemengkalan hatinya, karena sekarang tidak ada lagi beban baginya, karena toh, sudah pasti ia berhadapan dengan SBY.

Nasib Golkar pasca pilpres 2009

Isu Munaslub atau Munas dipercepat diiakan Muladi, salah satu petinggi Golkar. Keluarnya ide tersebut di saat-saat Pilpres, tentunya tidak menguntungkan bagi JK-Win. Oleh karenanya, isu ini seakan-akan usaha untuk menjegal JK-Win.

JK-Win dan Habibie, tokoh Golkar di kala sulit
Penjegalan Capres Golkar bukan saat ini saja terjadi. Pilpres 1999 membuktikan bahwa usaha tersebut sudah pernah terjadi. Uniknya, capres yang diusung Golkar saat itu berasal dari Indonesia Timur. Sama seperti Habibie, JK dianggap memiliki dosa yang sama, menurunkan suara Golkar.

Tapi baik Habibie maupun JK sebenarnya sudah membuktikan bahwa merekalah yang memiliki massa yang benar-benar solid mendukung Golkar. Para pendukung Habibie misalnya, akan melihat dari masalah lain. Golkar di era kepemimpinan Habibie berada di situasi yang terpuruk. Euforia reformasi menyebabkan Golkar mendapatkan musuh yang banyak, yang ingin melihat Golkar berakhir di panggung politik Indonesia. Ketokohan Habibie menyebabkan Golkar masih menjadi pemenang di Indonesia Timur, kawasan dari mana Habibie berasal, dari Riau dan pesisir timur Sumatera, daerah di mana perantau asal Indonesia Timur banyak merantau dan Jawa Barat, daerah yang banyak memiliki kaitan historis dengan Indonesia Timur.

JK pun menghadapi problem yang sama. Meski pemenang dalam pemilu 2004, Golkar didera penurunan citra akibat banyaknya kasus korupsi yang melanda politisi Golkar. Di tengah-tengah semangat penghapusan korupsi yang menggejala di masyarakat, di mana dua partai baru di Pemilu 2004, PKS dan Demokrat mendapatkan citra sebagai partai penghapus korupsi dan partai penuh kaum profesional Golkar masih eksis sebagai runner up pada pileg 2009. Perolehan suara Golkar masih lebih baik daripada PDIP sebagai partai yang sama-sama disapu tsunami Demokrat/PKS dan partai yang harus mempertahankan serbuan baru dari Gerindra dan Hanura. Dan JK pun membuktikan bahwa Indonesia Timur, pesisir timur Sumatera dan Jawa Barat adalah basis pertahanan Golkar.

Tantangan Gerindra
Adalah kenyataan bahwa sejak reformasi partai-partai pemenang pemilu selalu bergantian. Pemilu 1999 dimenangkan PDIP. Pemilu 2004 oleh Golkar dan Pemilu 2009 oleh Demokrat. Partai Gerindra berpeluang memenangkan pemilu 2014.

Gerindra yang diusung Prabowo memiliki segudang nilai lebih yang akan menjadi daya tarik pemilih pada 2014, yakni:
1. Dana yang besar. Sampai saat ini cawapres terkaya adalah PRabowo SUbianto.
2. Ide perubahan yang signifikan. Partai-partai yang ada tidak jelas mengusung apa, Prabowo tampil dengan isu perubahan dan misi yang jelas.
3. Kemampuan menarik tokoh.
Prabowo terbukti mampu menarik tokoh-tokoh politik ke partainya, termasuk yang dianggap fanatik selama ini. Sebut saja K.H. Zainuddin MZ dari PPP/PBR, Permadi dari PDIP, Yenny Wahid dari PKB.

Dengan potensi yang ke-3, jika Prabowo berhasil menarik tokoh-tokoh Indonesia Timur mulai dari parpol-parpol non PT seperti Ryas Rasid, Ngabalin dan kemudian para pendukung JK yang dikecewakan Golkar, akan mudah sekali membalikkan dukungan masyarakat Indonesia Timur, tapi tentu saja dengan skenario JK gagal dalam Pilpres 2009.

Jika JK Menang
Meskipun skenario Pilpres memenangkan JK-Win, tidak dapat dipastikan nasib Golkar akan lebih baik. Kalau kita lihat dari dukungan terhadap pasangan JK-Win, Hanuralah yang solid. Dan jika Gerindra mendukung pasangan ini, baik dalam pemenangan pilpres maupun di parlemen, maka akan mudahlah bagi Gerindra memindahkan penumpang Golkar ke Gerindra, karena sebagimana periode-periode sebelumnya, kita dapat melihat bahwa dukungan parlemen dari Golkar ke JK ataupun Habibie pada masa lalu tidaklah solid. Sikap seperti ini tentu akan menimbulkan sakit hati bagi pendukung JK, sehingga Gerindra tinggal menggosoknya sedikit saja.

Gerindra next bintang
Jika tidak ada perubahan berarti, kita akan melihat bahwa partai-partai besar saat ini, Demokrat, PDIP, dan Golkar akan jadi kenangan masa lalu. Ketiga partai ini mungkin akan masih bisa mengisi posisi no. 2, tetapi posisi no.1 sepertinya akan jadi perebutan antara Hanura dan Gerindra. Dengan melihat ketiga potensi di atas, Gerindralah yang paling berpeluang.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. Golkar

Misteri Agus Silvi dalam Pilkada DKI

Tiba-tiba saja, nama Agus Harimurti Yudhoyono tampil menjadi pasangan Cagub – Cawagub Jakarta dari Poros Cikeas yang terdiri dari Demokrat, PAN, PPP dan PKB. Nama Yusril Ihza Mahendra yang selama ini gencar disebut-sebut Koalisi Kekeluargaan, hilang begitu saja.

Kampanye korupsi Prabowo bisa blunder

Meskipun Gerindra, partai pendukung utama Prabowo hanya menempati peringkat ke-7 dengan indeks 1,9 dibandingkan PDIP partai pendukung utama Jokowi yang menempati peringkat ke-1 partai terkorup di Indonesia dengan indeks 7,7, kampanye korupsi Prabowo tetap bisa menjadi blunder.

Loyalitas Pendukung Partai Pilpres 17 April 2019

Bendera Golkar berkibar dalam kampanye Prabowo Sandi di Makassar, sebaliknya logo Jokowi Makruf menghiasi baliho caleg Demokrat di Jawa Timur.Fenomena tersebut menunjukkan dukungan pendukung partai tidak selalu sejalan dengan pilihan pengurus Partai.

Partai Ekor Jas

Dalam Pilpres 2019, hanya ada empat partai ekor jas, yakni :
  1. PDIP dan Nasdem bagi pasangan Jokowi Makruf.
  2. Gerindra dan PKS bagi pasangan Prabowo Sandi.
Para pendukung kedua capres mengartikan hanya keempat partai tersebut yang betul-betul merupakan pengusung sejati kedua pasangan capres. Karenanya, kedua partai tersebut yang mendapatkan keuntungan dan kerugian dari kedua pasangan capres.

Susunan Tim Sukses Anies Sandi

Politisi PKS Mardani Ali Sera yang disebut-sebut sebagai bakal cawagub Sandiaga Uno menjadi Ketua Tim Pemenangan Anies Sandi. Sementara mantan Ketua DPD PDIP Jakarta, Boy Sadikin menjadi Ketua Relawan Anies Sandi.

Terbukti, Golkar partai oportunis

Kekalahan yang dialami oleh JK-Win dalam pilpres sungguh drastis. Suara yang diperoleh pasangan ini betul-betul jauh dari modal usungan partainya yang 20%. Berarti pasangan ini tekor 7%. Padahal suara itu sudah dibantu dari dukungan dari pendukung nonkoalisi. Artinya jika suara dikurangi suara Hanura yang sekitar 4% dan sumbangan suara non golkar sebesar anggap saja 2%, maka suara dari Golkar sendiri hanya 7%, artinya JK-Win hanya mengumpulkan
suara 50% dari pendukung Golkar.

Dari sejumlah basis Golkar hanya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara saja yang solid mendukung pasangan JK-Win. Sementara di daerah lain pasangan ini tidak didukung oleh Golkar. Di Riau misalnya, jika pada pileg lalu Gubernur dan para bupati dari Golkar berkampanye, pada pilpres justru pasif. Kalau memang ada aturan, kenapa pada pilpres dilarang dan pileg diperbolehkan? Gerak pengurus di daerah pun tidak kelihatan. Tidak seperti pengurus PDIP dan Demokrat yang solid mengampanyekan capres mereka, Golkar tidak bergerak.

Partai Penuh Oportunis
Melihat sejarah, Golkar adalah partai yang dicap tidak konsisten. Sejarah membuktikan.

Pada saat voting laporan pertanggungjawaban Habibie, PAN, PKS, PBB, PPP solid mendukung Habibie, tetapi kubu Golkar yang dikomandoi Marzuki Darusman dkk justru membelot ke kubu PDIP.

Pada pemilu 2004, kubu Golkar yang dikomandoi Fahmi Idris dkk justru menyeberang ke pasangan SBY-JK.

Pada pemilu 2009, kubu Golkar simpatisan Akbar Tanjung menyeberang ke SBY.

Kalau dicatat banyaknya pilkada yang dimenangkan pasangan non-Golkar di daerah mayoritas Golkar sendiri, kasus-kasus seperti itu tidak terhitung.

Hukum Karma
Bagi Jusuf Kalla sendiri sebenarnya sudah impas. Pada pemilu 2009 lalu, kubunya yang menggembosi Golkar. Pemilu 2009 ini justru dia yang digembosi.

Masih pantaskah Golkar diperhitungkan
Dengan sejumlah kasus tersebut, sebenarnya harus jadi pelajaran bagi para tokoh-tokoh public figur yang ingin mencalonkan diri dari Golkar, masih pantaskah Golkar dijadikan kendaraan politik? Untuk persyaratan administratif tentu masih, tetapi untuk kemenangan/kesuksesan, tentu lihat kembali fakta yang ada.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar

Seandainya saja melanjutkan chemistry SBY-JK, barangkali tidak akan ada protes dari masyarakat tentang jargon pemilu satu putaran. Bahkan seandainya LSI mengatakan keterpilihan pasangan ini 80% atau lebih, mungkin umum bisa menerima. Lalu kenapa SBY begitu ngotot memilih Boediono? Apakah SBY telah melakukan suatu kesalahan keputusan?

Koalisi Prabowo dan JK ke SBY, mungkinkah

Secara tidak sengaja saya membaca komentar salah seorang pembaca pada sebuah blog yang bunyinya sebagai berikut:
Kalau dalam putaran kedua, SBY berhadapan dengan JK, sebaiknya pak Prabowo bergabung saja dengan SBY, dan kalau SBY berhadapan dengan Prabowo, sebaiknya pak JK bergabung saja dengan SBY

Dibalik Hak Angket DPT Pilpres

Koalisi yang dibangun Golkar dan PDIP berhasil menarik dukungan bukan hanya koalisi besar, tetapi juga dari partai-partai koalisi Demokrat yakni PAN, PPP dan PKB. Keberhasilan koalisi ini, tentu saja menggeramkan Demokrat. Ada apa di balik keberhasilan pengajuan hak angket tersebut?

Perkembangan Perolehan Kursi DPR 2014 - 2019

Meskipun menempati posisi kedua dalam perolehan suara, namun dari segi perolehan kursi Partai Gerindra hanya menempati posisi ketiga. Hal yang sama juga dialami oleh PKB yang perolehan suaranya di posisi keempat, sementara dalam perolehan kursi diperkirakan menempati posisi kelima.

Keambiguan Demokrat

Demokrat merasa menjadi korban politik identitas yang dimainkan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi. Benarkah demikian?

Prediksi 9 Partai Parlemen 2019-2024

Empat hari lagi akan diadakan pemungutan suara Pemilihan Umum 17 April 2019. Dari 16 partai politik peserta pemilu, 9 partai diprediksi lolos ke Senayan sementara 7 partai harus gigit jari.

Tiga Kategori Partai Politik Indonesia

Banyaknya Partai Politik di Indonesia menyebabkan masyarakat kesulitan untuk memilih partai secara murni, kecuali adanya pertimbangan dengan seseorang yang berkepentingan dengan partai tersebut yakni pengurus atau pejabat meliputi legislator yang diusung partai.

Ketika seorang tokoh meloncat, para pendukungnya juga mengikuti loncatan tersebut. Namun demikian tidak serta merta loncatan tokoh tersebut diikuti, yakni ketika sang tokoh meloncat keluar dari pagar kategori parpol.

Gengsi Parpol di Pilkada DKI

Tidak mau ribet dengan berbagai persyaratan di antaranya mahar politik, Ahok memilih jalur mandiri. Teman Ahok telah berhasil mendapatkan lebih dari 600.000 foto kopi KTP, padahal yang disyaratkan hanya 532.000 kopi.

Pro Kontra PAN masuk kabinet

Partai Amanat Nasional pimpinan Zulkifli Hasan memutuskan untuk mendukung pemerintah dan masuk ke kabinet. Apa tanggapan atas hal ini?

Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar

Selasa, 3 April 2012 diadakan pertemuan di Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut hadi pimpinan partai koalisi, yakni:

  1. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa
  2. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
  3. Ketua Umum PKB Muhaimain Iskandar
  4. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum
  5. Ketua Umum PPP Suryadarma Ali (SDA)

Akankah Golkar jadi PKB kedua?

Pasca pilpres Golkar terbelah dua. Berpecahnya SBY - JK menyebabkan Golkar menjadi dua kekuatan, yakni kubu pro JK dan kubu pro SBY. Kedua kubu saat ini akan bertarung dalam Munaslub Golkar. Kubu SBY dimotori oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono berencana mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Kubu JK telah membentuk Tim Pemenangan Yuddy Chrisnandy dengan Ketua Tim Sukses Zainal Bintang, Manajer Kampanye Indra J. Piliang, mantan anggota tim sukses JK pada pilpres lalu.

Namun informasi yang beredar luas, formasi yang diusung kubu JK adalah Surya Paloh sebagai Ketua Umum, Siswono Yudhohusodo sebagai Wakil Ketua Umum dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat.

Pertarungan kedua kubu ini akan sangat panas. Aburizal Bakrie sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan didukung SBY sebagai pemerintah berpeluang besar untuk menang. Aburizal Bakrie atau yang disapa Ical berjanji akan membangkitkan kebesaran Golkar.

Siapa pun yang duduk berkeinginan kuat untuk menjadikan Golkar besar kembali seperti Pemilu 2004. Tetapi kondisi yang dihadapi Golkar jauh berubah. Tahun 2004 adalah tahun kekecewaan pemilih kepada partai-partai reformis yang dianggap bukan saja kurang becus mengurus negara, tetapi kebersihannya juga lebih kurang sama dengan partai-partai yang selama ini disudutkannya. Oleh karenanya, masyarakat teringat nostalgia lama, Golkar dan Soeharto. Pada pemilu 2004, masyarakat memilih Golkar sebagai partai warisan Orde Baru dan memilih SBY yang dianggap memiliki karakteristik Soeharto, tidak banyak bicara, tenang dan militer.

2014 nostalgia-nostalgia orde baru dan soeharto sudah hilang dari benak masyarakat. Jika pemerintahan SBY tidak melakukan kesalahan yang fatal, nostalgia yang terjadi adalah nostalgia SBY dan Demokratnya. Akankah Golkar sanggup melawan?

Sebagai partai yang diisi kaum-kaum oportunis, kader-kader Golkar yang merasa peluang Golkar menyusut tentu saja akan mudah pindah perahu. Jika kubu SBY kalah, mungkin mereka akan migrasi besar-besaran ke Demokrat. Demikian pula, jika kubu JK kalah, mungkin juga akan migrasi besar-besaran ke PDIP atau Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, yang sampai saat ini masih calon terkuat capres pengganti SBY. Lalu, Golkar akan dikosongkan, seperti PKB pasca pertikaian Gus Dur Muhaimin. Dan mungkin, Golkar akan mengalami nasib yang sama seperti PKB? Siapa tahu.

Tulisan ini bagian dari :

  1. SBY
  2. Golkar

Divide et Impera

Strategi memecah belah lawan dalam politik dan bisnis sebenarnya biasa-biasa saja. Hanya saja, dalam sejarah kehidupan bangsa, strategi ini seakan-akan telah menjadi trade mark Orba. Karenanya, pengguna strategi ini diperkirakan adalah Neo-Orba.