Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gerindra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri gerindra. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Silsilah Gerindra dengan Sumpah Pemuda dan Budi Utomo

Pemimpin Oposisi 2014-2019, Capres Prabowo Subianto dikaitkan dengan khilafah, wahabi dan Soeharto. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa pada Pemilu 2014, Prabowo Subianto memakai simbol-simbol Soekarno.

Nasib Golkar pasca pilpres 2009

Isu Munaslub atau Munas dipercepat diiakan Muladi, salah satu petinggi Golkar. Keluarnya ide tersebut di saat-saat Pilpres, tentunya tidak menguntungkan bagi JK-Win. Oleh karenanya, isu ini seakan-akan usaha untuk menjegal JK-Win.

JK-Win dan Habibie, tokoh Golkar di kala sulit
Penjegalan Capres Golkar bukan saat ini saja terjadi. Pilpres 1999 membuktikan bahwa usaha tersebut sudah pernah terjadi. Uniknya, capres yang diusung Golkar saat itu berasal dari Indonesia Timur. Sama seperti Habibie, JK dianggap memiliki dosa yang sama, menurunkan suara Golkar.

Tapi baik Habibie maupun JK sebenarnya sudah membuktikan bahwa merekalah yang memiliki massa yang benar-benar solid mendukung Golkar. Para pendukung Habibie misalnya, akan melihat dari masalah lain. Golkar di era kepemimpinan Habibie berada di situasi yang terpuruk. Euforia reformasi menyebabkan Golkar mendapatkan musuh yang banyak, yang ingin melihat Golkar berakhir di panggung politik Indonesia. Ketokohan Habibie menyebabkan Golkar masih menjadi pemenang di Indonesia Timur, kawasan dari mana Habibie berasal, dari Riau dan pesisir timur Sumatera, daerah di mana perantau asal Indonesia Timur banyak merantau dan Jawa Barat, daerah yang banyak memiliki kaitan historis dengan Indonesia Timur.

JK pun menghadapi problem yang sama. Meski pemenang dalam pemilu 2004, Golkar didera penurunan citra akibat banyaknya kasus korupsi yang melanda politisi Golkar. Di tengah-tengah semangat penghapusan korupsi yang menggejala di masyarakat, di mana dua partai baru di Pemilu 2004, PKS dan Demokrat mendapatkan citra sebagai partai penghapus korupsi dan partai penuh kaum profesional Golkar masih eksis sebagai runner up pada pileg 2009. Perolehan suara Golkar masih lebih baik daripada PDIP sebagai partai yang sama-sama disapu tsunami Demokrat/PKS dan partai yang harus mempertahankan serbuan baru dari Gerindra dan Hanura. Dan JK pun membuktikan bahwa Indonesia Timur, pesisir timur Sumatera dan Jawa Barat adalah basis pertahanan Golkar.

Tantangan Gerindra
Adalah kenyataan bahwa sejak reformasi partai-partai pemenang pemilu selalu bergantian. Pemilu 1999 dimenangkan PDIP. Pemilu 2004 oleh Golkar dan Pemilu 2009 oleh Demokrat. Partai Gerindra berpeluang memenangkan pemilu 2014.

Gerindra yang diusung Prabowo memiliki segudang nilai lebih yang akan menjadi daya tarik pemilih pada 2014, yakni:
1. Dana yang besar. Sampai saat ini cawapres terkaya adalah PRabowo SUbianto.
2. Ide perubahan yang signifikan. Partai-partai yang ada tidak jelas mengusung apa, Prabowo tampil dengan isu perubahan dan misi yang jelas.
3. Kemampuan menarik tokoh.
Prabowo terbukti mampu menarik tokoh-tokoh politik ke partainya, termasuk yang dianggap fanatik selama ini. Sebut saja K.H. Zainuddin MZ dari PPP/PBR, Permadi dari PDIP, Yenny Wahid dari PKB.

Dengan potensi yang ke-3, jika Prabowo berhasil menarik tokoh-tokoh Indonesia Timur mulai dari parpol-parpol non PT seperti Ryas Rasid, Ngabalin dan kemudian para pendukung JK yang dikecewakan Golkar, akan mudah sekali membalikkan dukungan masyarakat Indonesia Timur, tapi tentu saja dengan skenario JK gagal dalam Pilpres 2009.

Jika JK Menang
Meskipun skenario Pilpres memenangkan JK-Win, tidak dapat dipastikan nasib Golkar akan lebih baik. Kalau kita lihat dari dukungan terhadap pasangan JK-Win, Hanuralah yang solid. Dan jika Gerindra mendukung pasangan ini, baik dalam pemenangan pilpres maupun di parlemen, maka akan mudahlah bagi Gerindra memindahkan penumpang Golkar ke Gerindra, karena sebagimana periode-periode sebelumnya, kita dapat melihat bahwa dukungan parlemen dari Golkar ke JK ataupun Habibie pada masa lalu tidaklah solid. Sikap seperti ini tentu akan menimbulkan sakit hati bagi pendukung JK, sehingga Gerindra tinggal menggosoknya sedikit saja.

Gerindra next bintang
Jika tidak ada perubahan berarti, kita akan melihat bahwa partai-partai besar saat ini, Demokrat, PDIP, dan Golkar akan jadi kenangan masa lalu. Ketiga partai ini mungkin akan masih bisa mengisi posisi no. 2, tetapi posisi no.1 sepertinya akan jadi perebutan antara Hanura dan Gerindra. Dengan melihat ketiga potensi di atas, Gerindralah yang paling berpeluang.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. Golkar

Susunan Tim Sukses Anies Sandi

Politisi PKS Mardani Ali Sera yang disebut-sebut sebagai bakal cawagub Sandiaga Uno menjadi Ketua Tim Pemenangan Anies Sandi. Sementara mantan Ketua DPD PDIP Jakarta, Boy Sadikin menjadi Ketua Relawan Anies Sandi.

Prediksi Koalisi Pilkada Pilgubri 2018 Riau

Tahun ini, Riau akan disibukkan agenda pendaftaran Pemilihan Gubernur Riau. Pertanyaannya, siapa-siapa yang akan menjadi Bakal Calon Gubernur Riau? Tetapi, sebelum melaju ke situ, penting diprediksi kemungkinan koalisi parpol? Koalisi parpol apa saja yang akan terbentuk?

Perkembangan Perolehan Kursi DPR 2014 - 2019

Meskipun menempati posisi kedua dalam perolehan suara, namun dari segi perolehan kursi Partai Gerindra hanya menempati posisi ketiga. Hal yang sama juga dialami oleh PKB yang perolehan suaranya di posisi keempat, sementara dalam perolehan kursi diperkirakan menempati posisi kelima.

Loyalitas Pendukung Partai Pilpres 17 April 2019

Bendera Golkar berkibar dalam kampanye Prabowo Sandi di Makassar, sebaliknya logo Jokowi Makruf menghiasi baliho caleg Demokrat di Jawa Timur.Fenomena tersebut menunjukkan dukungan pendukung partai tidak selalu sejalan dengan pilihan pengurus Partai.

Partai Ekor Jas

Dalam Pilpres 2019, hanya ada empat partai ekor jas, yakni :
  1. PDIP dan Nasdem bagi pasangan Jokowi Makruf.
  2. Gerindra dan PKS bagi pasangan Prabowo Sandi.
Para pendukung kedua capres mengartikan hanya keempat partai tersebut yang betul-betul merupakan pengusung sejati kedua pasangan capres. Karenanya, kedua partai tersebut yang mendapatkan keuntungan dan kerugian dari kedua pasangan capres.

Kampanye korupsi Prabowo bisa blunder

Meskipun Gerindra, partai pendukung utama Prabowo hanya menempati peringkat ke-7 dengan indeks 1,9 dibandingkan PDIP partai pendukung utama Jokowi yang menempati peringkat ke-1 partai terkorup di Indonesia dengan indeks 7,7, kampanye korupsi Prabowo tetap bisa menjadi blunder.

Keambiguan Demokrat

Demokrat merasa menjadi korban politik identitas yang dimainkan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi. Benarkah demikian?

Prediksi 9 Partai Parlemen 2019-2024

Empat hari lagi akan diadakan pemungutan suara Pemilihan Umum 17 April 2019. Dari 16 partai politik peserta pemilu, 9 partai diprediksi lolos ke Senayan sementara 7 partai harus gigit jari.

Tiga Kategori Partai Politik Indonesia

Banyaknya Partai Politik di Indonesia menyebabkan masyarakat kesulitan untuk memilih partai secara murni, kecuali adanya pertimbangan dengan seseorang yang berkepentingan dengan partai tersebut yakni pengurus atau pejabat meliputi legislator yang diusung partai.

Ketika seorang tokoh meloncat, para pendukungnya juga mengikuti loncatan tersebut. Namun demikian tidak serta merta loncatan tokoh tersebut diikuti, yakni ketika sang tokoh meloncat keluar dari pagar kategori parpol.

Kelompok Radikal vs Penista Agama

Pemilihan Presiden 2019 semakin dekat. Upaya penarikan dukungan pun makin diperkuat, meski pun akibatnya menguatnya perpecahan umat.

Perjalanan Politik Ahmad Dhani

Dhani Ahmad Prasetyo mulanya hanya rocker Dewa 19 dengan barisan pengagum yang disebut Baladewa. Kemudian, Ahmad Dhani berjaya dengan Manajemen Artis Republik Cinta. Dia pun mampu mengorbitkan putranya sebagai artis papan atas Indonesia.

Pro Kontra PAN masuk kabinet

Partai Amanat Nasional pimpinan Zulkifli Hasan memutuskan untuk mendukung pemerintah dan masuk ke kabinet. Apa tanggapan atas hal ini?

Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar

Selasa, 3 April 2012 diadakan pertemuan di Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut hadi pimpinan partai koalisi, yakni:

  1. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa
  2. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
  3. Ketua Umum PKB Muhaimain Iskandar
  4. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum
  5. Ketua Umum PPP Suryadarma Ali (SDA)

Empat Isu Krusial UU Pemilu

Empat Isu Krusial UU Pemilu telah diselesaikan oleh DPR pada hari Kamis 12 April 2012.

Akankah Golkar jadi PKB kedua?

Pasca pilpres Golkar terbelah dua. Berpecahnya SBY - JK menyebabkan Golkar menjadi dua kekuatan, yakni kubu pro JK dan kubu pro SBY. Kedua kubu saat ini akan bertarung dalam Munaslub Golkar. Kubu SBY dimotori oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono berencana mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Kubu JK telah membentuk Tim Pemenangan Yuddy Chrisnandy dengan Ketua Tim Sukses Zainal Bintang, Manajer Kampanye Indra J. Piliang, mantan anggota tim sukses JK pada pilpres lalu.

Namun informasi yang beredar luas, formasi yang diusung kubu JK adalah Surya Paloh sebagai Ketua Umum, Siswono Yudhohusodo sebagai Wakil Ketua Umum dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat.

Pertarungan kedua kubu ini akan sangat panas. Aburizal Bakrie sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan didukung SBY sebagai pemerintah berpeluang besar untuk menang. Aburizal Bakrie atau yang disapa Ical berjanji akan membangkitkan kebesaran Golkar.

Siapa pun yang duduk berkeinginan kuat untuk menjadikan Golkar besar kembali seperti Pemilu 2004. Tetapi kondisi yang dihadapi Golkar jauh berubah. Tahun 2004 adalah tahun kekecewaan pemilih kepada partai-partai reformis yang dianggap bukan saja kurang becus mengurus negara, tetapi kebersihannya juga lebih kurang sama dengan partai-partai yang selama ini disudutkannya. Oleh karenanya, masyarakat teringat nostalgia lama, Golkar dan Soeharto. Pada pemilu 2004, masyarakat memilih Golkar sebagai partai warisan Orde Baru dan memilih SBY yang dianggap memiliki karakteristik Soeharto, tidak banyak bicara, tenang dan militer.

2014 nostalgia-nostalgia orde baru dan soeharto sudah hilang dari benak masyarakat. Jika pemerintahan SBY tidak melakukan kesalahan yang fatal, nostalgia yang terjadi adalah nostalgia SBY dan Demokratnya. Akankah Golkar sanggup melawan?

Sebagai partai yang diisi kaum-kaum oportunis, kader-kader Golkar yang merasa peluang Golkar menyusut tentu saja akan mudah pindah perahu. Jika kubu SBY kalah, mungkin mereka akan migrasi besar-besaran ke Demokrat. Demikian pula, jika kubu JK kalah, mungkin juga akan migrasi besar-besaran ke PDIP atau Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, yang sampai saat ini masih calon terkuat capres pengganti SBY. Lalu, Golkar akan dikosongkan, seperti PKB pasca pertikaian Gus Dur Muhaimin. Dan mungkin, Golkar akan mengalami nasib yang sama seperti PKB? Siapa tahu.

Tulisan ini bagian dari :

  1. SBY
  2. Golkar

Tag di technorati

Inilah beberapa tag di technorati tentang blog ini.

http://feeds.technorati.com/tag/neo-lib
http://feeds.technorati.com/tag/panti
http://feeds.technorati.com/tag/sejarah
http://technorati.com/tag/partai
http://technorati.com/tag/isu
http://technorati.com/tag/mega-pro
http://feeds.technorati.com/tag/jk/
http://technorati.com/tag/gerindra

Koalisi Partai-partai Pada Pilpres 2009

Partai-partai Mega-Pro, SBY-Boediono dan JK-Win