Silsilah Gerindra dengan Sumpah Pemuda dan Budi Utomo

Pemimpin Oposisi 2014-2019, Capres Prabowo Subianto dikaitkan dengan khilafah, wahabi dan Soeharto. Hal ini tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa pada Pemilu 2014, Prabowo Subianto memakai simbol-simbol Soekarno.

Antara Garuda dan Harimau

Riset Fadly Zon menyebutkan bahwa harimau merupakan lambang yang disukai untuk partai ini yang mencerminkan keperkasaan, menggetarkan lawan ketika mengaum. Ini perlambang ideologi partai yakni nasionalis kerakyatan, yang dilatarbelakangi kondisi politik yang jauh dari tujuan demokrasi, politik dan partai politik hanyalah alat permainan kekuasaan para penjahat yang tidak peduli kesejahteraan rakyat. Gerindra lahir didorong ujaran Edmun Burke : Jika orang baik tidak berbuat apa-apa, maka orang jahat yang akan bertindak.

Namun Prabowo kemudian mengusulkan kepala burung garuda, yang disetujui oleh para pendiri Gerindra.

Pendiri Gerindra

Ide pendirian Gerindra berawal dari perbincangan Fadli Zon dengan Hashim Djojohadikusumo dalam perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta, November 2007. Gerindra resmi berdiri pada tanggal 6 Februari 2008 oleh :
  1. DR.H.Fadli Zon,SS,M.Sc, saat ini Wakil Ketua DPR dari Gerindra, peneliti IPS, Presiden/Sekjen ISAFIS, ACRP dan Gerakan Pemuda Islam.
  2. Ahmad Muzani, Wakil Ketua MPR RI dari Gerindra, eks Wasekjen PBR / aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).
  3. M. Asrian Mirza, eks Redaktur Fotografi Gatra.
  4. Amran Nasution, eks Redpel Tempo, eks Redaktur Gatra.
  5. Halida Hatta (putri Bung Hatta)
  6. Tanya Alwi (putri Des Alwi)
  7. Abdul Haris Bobihoe, Wakil Ketua DPRD Jabar.
  8. DR. Ir.Sufmi Dasco Ahmad,SH,MH , mantan Pengurus Pelajar Islam Indonesia (1983), Dewan Pembina Konas Menwa 2007.
  9. Muchdi Pr (mantan perwira BIN, mendukung Jokowi pindah dari Gerindra ke PPP kemudian ke Partai Berkarya).
  10. Widjono Hardjanto
  11. Prof. DR.Ir.Suhardi,S.S,M.Sc, Almarhum, Guru Besar Kehutanan UGM, pendiri Partai Kemakmuran Tani dan Nelayan 2003.

Nama Gerindra

Semula nama partai ini direncanakan Partai Indonesia Raya, partainya kakek Prabowo dan Hashim, Margono Djojohadikoesoemo. Tetapi, karena nama partai ini telah pernah dipakai yakni oleh Partai Indonesia Raya (PIR) dan Parindra, nama partai akhirnya diusulkan oleh Hashim ditambah Gerakan.

Partai Indonesia Raya

Partai Indonesia Raya (Parindra) didirikan di Solo, 26 Desember 1935 merupakan fusi dari Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (dr. Sutomo).  Kemudian bergabung pula Sarekat Celebes, Sarekat Sumatera, Sarekat Ambon, Perkumpulan Kaum Betawi (Husni Thamrin), Timor Verbond dan Tirtayasa.
Tokoh-tokoh Parindra ikut dalam menjadi tokoh BPU PKI, di antaranya Woeryaningrat, Soekardjo Wiryopranoto, Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo, R. Panji Soeroso dan Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Radjiman Wedyoningrat.

Beberapa aktivis Parindra yang lain adalah AH Nasution (guru HIS Tanjungraja Palembang, kemudian Panglima TNI), Gondokusumo (mertua Nasution), Sudiro (walikota Jakarta).

Pada Pemilu 1955, Partai Indonesia Raya mengikuti pemilu dengan dua partai yakni PIR Wongsonegoro dan PIR Hazairin, masing-masing mendapatkan 1 (satu) kursi.

Persatuan Bangsa Indonesia


Merupakan perubahan nama dari Indonesische Studies Club yang didirikan di Surabaya pada tanggal 11 Juli 1924 oleh Dr. Sutomo. Perubahan nama tersebut terjadi pada tanggal 11 Oktober 1930.

Indonesische Studies Club didirikan oleh dr. Soetomo sekembalinya dari Belanda. Di Belanda, dia ikut organisasi Indische Vereeniging yang kemudian berubah menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) di mana beliau menjadi ketuanya 1920-1921.

Alumni Indische Vereeninging merupakan tokoh yang menggagas Sumpah Pemuda 1928.

Boedi Utomo

Didirikan oleh mahasiswa STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Di antara pendirinya adalah Dr. Sutomo, Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeradji. Digagas oleh dr. Wahidin Sudirohusodo.

Budi Utomo kemudian banyak dimasuki oleh kaum bangsawan, yang kemudian pimpinan di antaranya RA Tirtokoesoemo, Bupati Karanganyar dan PA Notodirodjo dari Pakualaman. Menolak feodalisme, sejumlah anggota Boedi Utomo keluar, di antaranya Tjipto Mangoenkusumo yang kemudian mendirikan Indische Partij.

Perdebatan kemudian juga terjadi antara Suwardi Suryaningrat yang ingin mengembangkan pendidikan dan Gunawan Mangunkusumo yang ingin mengembangkan kebudayaan.


Indische Partij /Partai Hindia merupakan partai pertama di Indonesia yang didirikan oleh Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat(Ki Hajar Dewantara / pendiri Taman Siswa) dan Tjipto Mangunkusumo. yang keluar dari Boedi Utomo pada tahun 1909.

Partai ini kemudian dilarang Belanda tahun 1913 dan pemimpinnya Tiga Serangkai dibuang. EFE Douwes Dekker (Setiabudi) kemudian mendirikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940, sedangkan Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.

Setelah berfusi dengan Parindra, Budi Utomo menjadi terbuka, di antaranya BU Bandung. Salah satu tokoh BU adalah Otto Iskandardinata (Jalak Harupat) pahlawan nasional yang merupakan Ketua Cabang BU Bandung 1921-1924 sebelum keluar mendirikan Paguyuban Pasundan serta Tirto Adhi Soerjo redaktur Medan Prijaji.




0 komentar: