Dukungan Ulama dalam Pilpres 2019

Khalifah Abbasiyah, al Makmun selaku sulthan / umara pewaris nabi pada tahun 212 H, memunculkan dua bid'ah, pertama fitnah Qur'an makhluk, suatu pendapat kaum Mu'tazilah (rasionalis/ JIL) dan kedua keutamaan Ali bin Abi Thalib atas semua manusia setelah rasulullah, suatu pendapat kaum Syi'ah. Pewaris Nabi lainnya, yakni para ulama menentang keras bid'ah tersebut meskipun harus menghadapi ujian. Selama periode 3 khalifah, para ulama mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi penyiksaan dan pembunuhan.


Pada tahun 218 H, Gubernur Baghdad, Ishak bin Ibrahim menguji para hakim dan ahli hadits. Imam Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh al Jundi Saburi bersikukuh menolak bid'ah tersebut sehingga diikat di atas punggung unta dalam cuaca yang sangat terik dikirim ke Khalifah al Makmun yang sedang berada di Tharsus. al Makmun wafat digantikan adiknya al Mu'tashim, yang menyaksikan penyiksaan Imam Ahmad bin Hanbal di hadapannya.

Tahun 227 H, Al Mu'tashim wafat digantikan al Watsiq. Tahun 231 H, Amru bin Ma'dukariba az Zubaidi membunuh Ahmad bin Nashr al Khuza'i di Shamshamah atas perintah al Watsiq. Beliau adalah pelopor penegakan amar ma'ruf nahi munkar penyeru Qur'an adalah kalamullah. Tahun 232 H, al Watsiq meninggal hanya 10 hari setelah para ahli nujum yang dikumpulkannya berpendapat bahwa dia akan berumur panjang dan hidup 50 tahun. al Watsiq digantikan al Mutawakkil.

Tahun 233 H, al Mutawakkil memerintahkan penangkapan Muhammad bin Abdul Malik az-Zayyat, menteri al Mu'tashim yang membunuh Ahmad bin Nashr al Khuza'i. Sang mantan menteri disiksa, dilarang makan dan dibuat tidak tidur sepanjang malam dengan membunyikan genderang setiap merebahkan diri. Pada tahun itu, Ahmad bin Abu Daud juga dibunuh karena menyatakan Ahmad bin Nashr al Khuza'i kafir.

Tahun 236 H, al Mutawakkil menghancurkan makam al Husain bin Ali bin Abi Thalib dan rumah-rumah sekitarnya. Tahun 237 H, al Mutawakkil memenjarakan dan membuang Ahmad bin Abu Duad, hakim Mu'tazilah. al Mutawakkil menyebarkan tulisan ke seluruh negeri untuk menghentikan propaganda Qur'an makhluk, penghormatan kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan penjunjungan Sunnah. Setiap gubernur yang diangkat melalui musyawarah dengan sang Imam.

SEPILIS, Khawarij, Wahabi, Murjiah

Selama beberapa periode ini, umat Islam Indonesia diresahkan oleh dugaan perkembangan SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme), Khawarij, Wahabi, Murjiah.  Perkembangan ini sangat mengkhawatirkan para ulama karena sejak berkembangnya Sekuler (Almaniyah) dalam Islam sejak masa Umayah, telah terjadi fitnah dalam umat Islam, yakni saling mengkafirkan para sahabat baik pendukung Ali maupun Muawiyah.

Amru bin Ash dan Muawiyah dianggap bertanggung jawab terhadap lahirnya paham sekuler, sistem malikiah (kerajaan), hilangnya syura dan antitesisnya Khawarij (anarkisme), Murjiah (apatisme). Ali bin Abi Thalib dianggap bertanggung jawab terhadap kelahiran Syiah. Umat Islam kemudian mengalami kerusuhan akibat Mu'tazilah (agnotisme) dan antitesisnya Wahabiyah (tekstualisme). Di Indonesia, sekulerisme sosialisme telah menjadi pintu masuk dianutnya komunisme oleh umat Islam melalui jalur SI Merah.

Pancasila merupakan suatu jalan tengah antara umat Islam dengan kaum sekuler, yang mana umat Islam Indonesia selama 1 (satu) milenial membumikan Islam di Indonesia dengan terminologi adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah. Pancasila merupakan jalan tengah antara kelompok Islam dalam BPUPKI yang diwakili KH Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimajo, Abdulkahar Muzakkir dan kawan-kawan dengan kelompok Sekuler Prof. Soepomo, Ir Soekarno dan kawan-kawan. Indonesia bukanlah negara berdasar agama, tetapi agama adalah dasar dalam membangun bangsa dan negara.

Sekulerisme Jokowi

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra pada tanggal 1 April 2017 pernah menuliskan kritiknya tentang ajakan Jokowi untuk tidak melibatkan agama dalam politik. Yusril menganggap bahwa Jokowi melupakan sejarah dan tidak memahami hakekat Pancasila.

Keprihatinan Ulama

Salah satu keprihatinan ulama adalah sikap dari para ulama itu sendiri yang pernah mempertanyakan sekulerisme Jokowi tetapi kemudian memanfaatkan tokoh agama untuk mendulang suara.

UAS menyatakan sikap

UAS (Ustadz Abdus Shomad) pada akhirnya menyatakan sikapnya mendukung penantang Jokowi (Prabowo Sandi) dengan disertai sindirin pada ulama yakni :
  1. Ulama jangan menjadi anak buah umara, tetapi mereka adalah penasehat
  2. Ulama tidak mendatangi umara, tetapi ulamalah yang harus didatangi umara
UAS berani menghadapi resiko sebagaimana berita bahwa Deputi Men-PAN memperkarakan status PNS UAS.

UAH menyatakan sikap

Ulama muda lain yang diakui kecemerlangan ilmunya disamping UAS, yakni UAH (Ustadz Adi Hidayat) juga menyatakan dukungan kepada Prabowo Sandi dengan pernyataan :
  1. Jika jadi presiden yang baik, akan mendoakan siang malam untuk menggandeng ke surga
  2. Jika mengkhianati amanah, akan menjadi saksi pertama untuk melipatgandakan siksa
Pesan ini merupakan kiasan Melayu lama : raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah. Juga pesan bahwa umara sebagai salah satu pewaris nabi diganjar keistimewaan pahala jika bertindak adil sebaliknya keistimewaan siksa jika zalim.

Aa Gym Nyatakan Sikap

Ulama yang bertahun-tahun mengajak umat Islam kembali ke khittah, yakni menjadi wirausaha sebagaimana jaminan al Qur'an bahwa jika burung saja dijamin rezekinya selagi mau bertebaran di muka bumi apalagi manusia dan bahwa perniagaan adalah sumber dari 9/10 riziki. Bahwa harga diri merupakan sesuatu yang paling bernilai bagi umat Islam, di mana tangan yang di atas lebih mulia dari pada yang di bawah. Oleh karenanya, membodoh-bodohi masyarakat dengan menggadaikan harga diri pada ketergantungan dari berbagai bantuan berbentuk kartu-kartu merupakan kebalikan dari cita-cita dan keyakinan founding father bahwa bangsa Indonesia memiliki harkat dan martabat yang sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Aa Gym menyatakan sikap mendukung Prabowo Sandi.

0 komentar: