Ternyata Jagung pun terpaksa di #impor

Pertanian, termasuk persediaan jagung adalah salah satu yang menjadi korban dari Kebijakan politik mercusuar ala Orde Lama yang dijalankan rezim Jokowi, berupa pembangunan monumental tanpa perhitungan ekonomi di antaranya jalan tol, ternyata mengorbankan masyarakat secara jangka pendek dan jangka panjang. Secara jangka pendek, masyarakat harus terbebani ekonomi karena defisit neraca sementara jangka panjang menanggung beban utang luar negeri.

Klaim Surplus Dipertanyakan


Rezim Jokowi pernah mengklaim surplus jagung sebanyak 12 juta ton. Dengan surplus sebesar itu, seharusnya Indonesia menjadi eksportir jagung terbesar di dunia.

Terpaksa Impor

Jagung pun akhirnya menjadi salah satu item yang ikut menyumbang defisit perdagangan. Kementan telah mengajukan pinjaman jagung kepada ‎Charoen Pokphand dan Japfa sebanyak 10 ribu ton. Jika impor jagung ini tidak dilakukan, menurut  Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Timur, Hidayatur Rahman harga jagung bisa menembus Rp 8.000 per kilogram, dua kali lipat dari harga normal Rp 4.000 per kilogram.

0 komentar: