Minggu, Desember 09, 2018

Tanggapan Penjajah Pun Membangun : Gatot dan Tengku

Pembangunan infrastruktur tanpa kejelasan manfaat ekonomi bagi masyarakat tidak ada artinya. Hal ini sekurang-kurangnya seperti yang dinyatakan oleh Panglima Gatot Nurmantyo dan Tuan Guru al Ittihadiyah Prof. Tengku Zulkarnain.

Gatot Nurmantyo :Penjajah pun Membangun Jalan


VIVA, 29 Juli 2018 menyatakan : Panglima Gatot Nurmantyo mencuit,
Membangun infrastruktur seperti jalan dan jembatan adalah hal penting. tapi itu saja tidak cukup. Penjajah pun membangun jalan. Jalan dan jembatan harus dipastikan bisa bermanfaat bagi penduduk lokal dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan Panglima Gatot Nurmantyo tersebut tidak salah, Jalan dan Rel di Jawa, Pembukaan Jalan Akses dari Lima Puluh Koto Sumatera Barat dengan Kampar Riau, Pembukaan Jalan dari Toba ke Simalungun merupakan hasil besar penjajahan Belanda, tetapi tujuan utamanya adalah untuk investasi dan manfaat ekonomi Hindia Belanda.

Tuan Guru Prof. Tengku Zulkarnain : Kita merdeka bukan cuma untuk bikin jalan

Majlis Pakar al Ittihadiyah, Ketua Majelis Fatwa Mathlaul Anwar dan Wasekjen MUI, Tuan Guru Prof. Tengku Zulkarnain, menyatakan :
“Kita merdeka bukan cuma untuk bikin jalan, apalagi cuma bikin jalan tol bayar mahal udah sombong. Belanda bikin 1.000 kilometer jalan tenang tenang saja bah.

Indonesia merdeka juga bukan cuma bangun pelabuhan dan bandara. Sebab pelabuhan Tanjungpriok, Tanjungperak dan Pelabuhan Belawan di Sumut dan Bandara Halim Perdana Kusuma yang bangun penjajah Belanda.

Sekarang ada lapangan terbang dibangun, tapi genderuwo yang nempati karena gak ada pesawat yang turun. Akhirnya lahirlah anak genderuwo si sontoloyo"

Pemimpin Menurut Islam

Dalam kenegaraan umat Islam Indonesia mengacu kepada dua tokoh besar yakni Hujjatul Islam al Ghazali dan Ulama Siyasah Syafi'i : Imam Mawardi.

Keduanya menekankan bahwa memilih pemimpin yang benar adalah kewajiban umat Islam. Menurut al Ghazali, tugas pemimpin adalah untuk mewujudkan visi politik Islam : Sultan wajib bagi tertib dunia, tertib dunia wajib bagi tertib agama, tertib agama wajib bagi keberhasilan akhirat. Politik tanpa agama hancur, agama tanpa politik hilang.

Menurut Mawardi, Imam/Khalifah adalah mengambil alih peran kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia. Pemimpin adalah pelindung dari segala ketidakadilan dan pemutusan hubungan yang terjadi karena manusia adalah makhluk sosial yang perlu bergaul dan dalam pergaulan terdapat potensi perselisihan, permusuhan dan penganiayaan.

Apa artinya pembangunan, jika tidak ada keadilan, rusaknya moral.

Tidak ada komentar: