Sabtu, Desember 22, 2018

Sayur pun terpaksa di #impor

Kebijakan politik mercusuar ala Orde Lama yang dijalankan rezim Jokowi, berupa pembangunan monumental tanpa perhitungan ekonomi di antaranya jalan tol, ternyata mengorbankan masyarakat secara jangka pendek dan jangka panjang. Secara jangka pendek, masyarakat harus terbebani ekonomi karena defisit neraca sementara jangka panjang menanggung beban utang luar negeri.

Kilah Pemerintah


Pemerintahan Jokowi tetap berkilah bahwa defisit perdagangan sebesar  US$2,05 miliar pada November 2018 terjadi karena nilai harga ekspor menurun sehingga nilai ekspor Indonesia hanya US$ 14,83 miliar sementara nilai impor US$ 16,88 miliar.

Sayur pun diimpor

Dari barang yang diimpor tersebut, ternyata salah satu yang mengalami peningkatan selain minuman (meningkat USD 75,3 juta dari bulan Oktober), besi dan baja (meningkat USD 64,7 juta dari bulan Oktober) adalah sayuran yang meningkat USD 57 juta. Impor sayur per bulan November sebesar USD 97 juta.

Cina diuntungkan

Lagi-lagi Cina yang mendapatkan keuntungan terbanyak dari Indonesia termasuk dari impor sayuran. Impor sayuran per November tercatat 116.536 ton, dengan rincian :

  1. Selandia Baru : 44 ton.
  2. Myanmar : 1.273 ton.
  3. Australia : 1.470 ton.
  4. Etiopia : 3.144 ton.
  5. Cina : 94.054 ton.

Tidak ada komentar: