Teddy Mirza Dal tidak jadi dilantik

Caleg terpilih dari Golkar Rohul yang juga mantan Ketua DPRD Rohul dipastikan tidak dilantik kembali. Pasalnya, SK pemecatan yang bersangkutan sebagai kader Golkar telah disetujui.

Usul tidak populer dari pecundang yang populer

Abdul Hafiz Anshary, pecundang Pilkada Kalimantan Selatan yang populer dengan ketidakbecusan kinerjanya selama menjabat sebagai Ketua KPU membuat sebuah usulan yang sangat tidak populer di era demokrasi ini, yaitu pengembalian pemilihan gubernur oleh DPRD. Jika usulan ini jadi dilaksanakan, mungkin usulan-usulan untuk mundur ke belakang seperti pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR dan sebagainya akan dengan gampang ditelorkan.


Alasan mendasar dikeluarkannya usulan tersebut oleh si "pecundang yang tidak becus" adalah tidak lain masalah biaya. Menurut Hafiz, biaya yang dikeluarkan selama pilkada sangat besar. Hafiz yang mengalami kekalahan dalam pilgub menyatakan bahwa pilkada juga syarat dengan politik uang, meski pemilihan oleh DPRD juga syarat politik uang.

Masalahnya mungkin hanya satu, politik uang yang dijalankan untuk pemilihan DPRD resikonya lebih kecil. Kalau seseorang sudah berhasil menyuap anggota DPRD dapat dipastikan dia bisa duduk tenang menunggu saat-saat Hari Hnya saja, sebaliknya money politic dalam pilkada memiliki resiko yang sangat besar. Bisa jadi, pada hari H, masyarakat pemilih justeru bertindak berdasarkan hati nuraninya. Selain itu, menyuap masyarakat jauh lebih susah daripada menyuap anggota DPRD yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau permasalahannya biaya, seharusnya KPU berpikir bagaimana caranya pembiayaan pilkada menjadi lebih irit dan terhadap masalah money politic, KPU pun harus merancang suatu sistem pemilihan yang lebih ketat.

Tidak mau ambil pusing
KPU di zaman Hafiz terkesan tidak mau ambil pusing dan berusaha mengurangi kerja-kerja yang menjadi bebannya. Lihat saja pelaksanaan pileg dan pilpres. Setiap ada masalah KPU mengabaikannya dan melemparkannya ke MK.

Pilkada pun akan menjadi beban kerja KPU. Oleh karenanya, biar kerjanya lebih enteng, KPU berusaha mengurangi pilkada, yakni dengan menghapuskan pilkada gubernur.

Pertanyaannya: Kalau memang tidak mau menanggung beban, kenapa mau jadi komisioner KPU?

Soetrisno Bachir akhirnya keluar dari "Dunia HItam"

Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Pepatah itu sudah mendarah daging di Indonesia. Namun nyatanya, seringkali terlupa. Itulah juga yang terjadi pada Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN. Sosok yang berjasa menyelamatkan PAN dari kehancuran ini, baru menyadari kekeliruan langkahnya saat-saat sekarang, setelah harta bendanya habis terkuras. SB baru sadar, seandainya uang yang segitu banyak digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, alangkah bermanfaatnya.


Dunia hitam banyak menelan orang-orang lugu bak SB. Tetapi SB tidak sendirian. Caleg-caleg yang banyak bertaburan di rumah sakit jiwa sekarang ini adalah juga orang-orang lugu yang menjadi korban dunia hitam.

Dunia hitam penuh intrik dan tipu. Orang-orang lugu hanya mengandalkan perhitungan. Ibarat judi, kebanyakan pejudi menggunakan modal yang juga didapatkan dari trik hitam, hasil maling, menipu dan sebagainya. Orang-orang lugu menggadaikan tanahnya, pensiunnya dan sebagainya untuk berjudi di dunia hitam.

Pejudi ulung yang telah lama malang melintang mengocok-ocok kartu sedemikian rupa dalam permainan sehingga kartu yang diterimanya AS dan joker semua. Orang-orang lugu bak SB dengan sportifnya membagi-bagi kartu. Akhirnya, kartu yang didapat jeblok semua.

Para pejudi ulung bersandiwara seakan-akan berlawanan, namun dalam permainan ternyata 'mandan'. Orang-orang lugu bak SB sangat percaya akan teman mainnya dan sangat berhati-hati pada lawannya. Padahal kawannya justru adalah lawan yang berbahaya. Ya dunia hitam susah membedakan kawan dan lawan.

Seorang lugu bermain wanita. Wanita tersebut seakan-akan tertarik dengan si lugu dan tidak menaruh perhatian kepada pesaing. Si lugu percaya dan dengan suka rela dipeloroti hartanya. Padahal hasil pelorotan itu digunakan si wanita untuk modal si pesaing berpoya-poya. Dunia hitam memang penuh tipu daya. Dan SB telah terpedaya dan terpeloroti.

Sekarang, SB sudah sadar dan siap untuk meninggalkan "dunia hitam". Selamat, semoga di "dunia putih" nanti, SB dapat kedamaian dan ketenangan.

Akankah Golkar jadi PKB kedua?

Pasca pilpres Golkar terbelah dua. Berpecahnya SBY - JK menyebabkan Golkar menjadi dua kekuatan, yakni kubu pro JK dan kubu pro SBY. Kedua kubu saat ini akan bertarung dalam Munaslub Golkar. Kubu SBY dimotori oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono berencana mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Kubu JK telah membentuk Tim Pemenangan Yuddy Chrisnandy dengan Ketua Tim Sukses Zainal Bintang, Manajer Kampanye Indra J. Piliang, mantan anggota tim sukses JK pada pilpres lalu.

Namun informasi yang beredar luas, formasi yang diusung kubu JK adalah Surya Paloh sebagai Ketua Umum, Siswono Yudhohusodo sebagai Wakil Ketua Umum dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat.

Pertarungan kedua kubu ini akan sangat panas. Aburizal Bakrie sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan didukung SBY sebagai pemerintah berpeluang besar untuk menang. Aburizal Bakrie atau yang disapa Ical berjanji akan membangkitkan kebesaran Golkar.

Siapa pun yang duduk berkeinginan kuat untuk menjadikan Golkar besar kembali seperti Pemilu 2004. Tetapi kondisi yang dihadapi Golkar jauh berubah. Tahun 2004 adalah tahun kekecewaan pemilih kepada partai-partai reformis yang dianggap bukan saja kurang becus mengurus negara, tetapi kebersihannya juga lebih kurang sama dengan partai-partai yang selama ini disudutkannya. Oleh karenanya, masyarakat teringat nostalgia lama, Golkar dan Soeharto. Pada pemilu 2004, masyarakat memilih Golkar sebagai partai warisan Orde Baru dan memilih SBY yang dianggap memiliki karakteristik Soeharto, tidak banyak bicara, tenang dan militer.

2014 nostalgia-nostalgia orde baru dan soeharto sudah hilang dari benak masyarakat. Jika pemerintahan SBY tidak melakukan kesalahan yang fatal, nostalgia yang terjadi adalah nostalgia SBY dan Demokratnya. Akankah Golkar sanggup melawan?

Sebagai partai yang diisi kaum-kaum oportunis, kader-kader Golkar yang merasa peluang Golkar menyusut tentu saja akan mudah pindah perahu. Jika kubu SBY kalah, mungkin mereka akan migrasi besar-besaran ke Demokrat. Demikian pula, jika kubu JK kalah, mungkin juga akan migrasi besar-besaran ke PDIP atau Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, yang sampai saat ini masih calon terkuat capres pengganti SBY. Lalu, Golkar akan dikosongkan, seperti PKB pasca pertikaian Gus Dur Muhaimin. Dan mungkin, Golkar akan mengalami nasib yang sama seperti PKB? Siapa tahu.

Tulisan ini bagian dari :

  1. SBY
  2. Golkar

Birokrat Indonesia Bodoh, Korup dan Jahat

Gita Wirjawan, Komisaris PT Pertamina yang digadang-gadang sebagai calon Meneg BUMN memang polos. Dengan terang-terangan dia mengungkapkan kekesalannya atas praktik birokrasi di Indonesia.

Perang Palu

Perang isu sejalan dengan selesainya pilpres sudah mulai reda. Namun, sinetron kekuasaan Indonesia tidak berarti dengan sendirinya selesai. Saat ini, kita disuguhkan dengan adegan baru, "perang palu".

Sportivitas ala Anas Urbaningrum

Langkah Megawati Prabowo menolak keputusan KPU dinilai Anas Urbaningrum sebagai tanda elemen demokrasi masih muda. Sportivitas, kedewasaan, dan sikap legowo perlu ditingkatkan, kata Anas.


Sportivitas tidak berarti membiarkan kecurangan
Apakah orang yang tidak mau menerima kekalahan tidak sportif? Kalau permainan dijalankan secara sportif, tentu saja tidak mau kalah sama dengan tidak sportif. Tetapi ingat, sportivitas bukan hanya pada hasil akhir. Sportivitas justru terletak pada proses permainan. Pemilu yang dilangsungkan dengan jujur, itulah yang sportif.

Kita tentu belum bisa disamakan dengan Amerika yang memang proses pemilunya berjalan sportif. Karenanya akan aneh kalau ada yang menolak hasilnya.

Kedewasan bukan berarti membiarkan dicurangi
Jika kita dicurangi lalu diam berarti dewasa, maka arti dewasa telah berubah. Sebaliknya, jika kita tidak dicurangi, kita teriak-teriak barulah dipertanyakan.

Legowo mental yang buruk
Salah satu mental yang ditanamkan penjajahan adalah legowo. Legowo ada baiknya, tetapi kalau kita dipermainkan, kalau ada yang bermain kotor, kalau ada yang menjahati, kita harus pasrah, maka legowo apa benar. Ada yang korupsi, kita pasrah. Apakah harus begitu?

Kalau pemilu, pilpres sudah berjalan dengan sportif lalu ada yang menolak hasilnya, maka orang yang demikian perlu dibuang. Tetapi kalau masih belum berjalan sportif, maka orang yang demikian musti diacungkan jempol. Apakah pemilu dan pilpres di Indonesia sudah berjalan sportif?

Kemenangan SBY dibatalkan

Kubu Megapro menuntut pilpres diulang. Pasalnya ditemukan banyak penyimpangan ditemukan. Misalnya ada 7.000.000 suara bermasalah ditemukan pada 6 provinsi.

Dua dari 3M jadi menteri

Beredar susunan kabinet SBY Boediono. Dua dari trio Mallarangeng yakni Rizal Mallarangeng dan Andi Mallarangeng menjadi menteri. Andi sebagai Mendagri dan Rizal sebagai Menkominfo. Dari kabinet lama, hanya beberapa orang saja yang kembali menjadi menteri, yakni: Lukman Edy, Sri Mulyani, Sofyan Jalil.

Buntut terorisme KPU dijaga ketat

Meledaknya bom JW Marriot memberi berkah tersendiri bagi KPU. Sejalan dengan ucapan SBY bahwa mungkin saja motif pengeboman adalah akibat pilpres, KPU mulai dari tingkat nasional sampai KPUD dijaga ketat oleh pihak keamanan.

Motivasi pengeboman JW Marriot dan Ritz-Carlton

Bom bunuh diri kembali terjadi di Indonesia. Jumat 17/7/2009 hotel JW Marriot yang rencananya tempat tim MU dalam tour ke Jakarta, meledak. Pimpinan Holcim International asal Selandia Baru, Thomas Mackay turut menjadi korban.

Jacko dibunuh 20 tahun lalu

Michael Jackson yang dinyatakan meninggal dunia beberapa hari yang lalu ternyata hanyalah penipu ulung. Jacko yang asli telah meninggal dunia 20 tahun lalu. Bukti tentang hal tersebut ditemukan oleh Tim Holbrooke,petugas forensik dari Kepolisian Santa Barbara di Neverland Valley Rancah, Selasa.

Hasil forensik

Menurut Holbrooke, mayat Jacko dikubur hanya beberapa inci di bawah bidang rel kereta api miniatur yang berjalan mengelilingi Neverland. Sebagian besar dari mayat yang mengering itu memakai sisa sebuah jaket kulit dengan ritsleting merah dan sebuah sarung tangan.

"Kami secara positif mengenali jasad itu sebagai Jackson dari laporan giginya dan DNA," kata Holbrooke. "Tetapi sebelum kami mengadakan satu tes forensik, kami sudah mencurigai bahwa kami tidak dapat mengungkap Michael asli, dan bahwa sosok meresahkan yang dituntut sebagai Jackson itu adalah palsu."

Holbrooke mengatakan bahwa, walaupun mayat mengalami pembusukan, dari hasil
pemeriksaan jasad dengan foto publisitas awal karir Jackson, mereka menemukan
kemiripan yang mencolok pada struktur tulang dan raut wajah. Tetapi anehnya,
saat mereka membandingkan jasad dengan foto yang diambil sesudah 1987, tidak
ditemukan kemiripan.

"Penemuan ini menimbulkan banyak pertanyaan, tetapi juga memberi titik terang pada sejumlah insiden yang meresahkan saat ini," kata Holbrooke.

Jacko mati sebelum peluncuran multi-platina BAD

Ahli forensik dan kritikus musik memperkirakan Jackson telah meninggal sebelum peluncuran album multi-platina BAD. Bahkan detektif saat ini menganalisa syair Man In The Mirror untuk dijadikan petunjuk yang mungkin berhubungan dengan entitas yang mirip dan dicurigai telah membunuh anggota paling muda dari Jackson 5 ini dengan memalsukan identitasnya.

Tersangka utama adalah Jacko yang hidup

Holbrooke mengatakan bahwa, Jacko yang hidup adalah tersangka utama di kasus
pembunuhan ini, dia bisa jadi sebagai korban dari beberapa tersangka lain."

"Secara mendasar, kami tidak mengetahui makhluk macam apa yang sedang kami hadapi saat ini," kata Holbrooke.

Pengalaman ke dunia yang lain

Seorang anggota tim investigasi yang menemukan jasad Jackson menggambarkan
pengalaman itu sebagai memasuki 'dunia lain'. "Sewaktu kami mendekati jalur
rel Neverland, anjing mulai menggonggong dan melolong seperti gila," kata
Detective Santa Barbara County Frank Poeller. "Kami mesti menarik mereka ke
dalam rumah. Ketika kami sampai ke kamar tidur Jackson, satu di antara anjing hampir mati saat mencoba keluar lewat jendela. Sesudah beberapa menit, anjing yang sama membawa kami ke mayat itu."

Keanehan Jacko palsu

Seorang wakil dari label ciptaan Jackson, MJJ Productions, mengatakan tidak heran mengetahui bahwa Jackson yang sekarang adalah penipu ulung.

"Saat kami sedang rekaman Heal The World untuk album Dangerous, saya tahu sesuatu yang sangat salah," kata Manager MJJ, Luke Allard. "Michael tidak nampak seperti dirinya sendiri lagi. Dia meminta makanan aneh dan duduk berjam-jam di sebuah hyperbaric.

Penampilannya mulai menjadi semakin aneh. Setelah itu, dia mulai memakai topeng dan membuat pengakuan pada seekor simpanse."

"Saya berpikir, pria ini sudah menjadi monster," kata Allard.
Allard mengatakan dia berpikir bahwa penipu lihai itu memutuskan hubungan dengan mantan teman-teman Jackson dan melindungi dirinya sendiri dan menjadi seorang yang radikal.

Susunan Kabinet SBY

SBY berkemungkinan besar keluar sebagai Juara I Lomba Kepresidenan Indonesia. Sebagai pemenang yang
Tulisan ini bagian dari :
SBY

Susunan Kabinet SBY

SBY berkemungkinan besar keluar sebagai Juara I Lomba Kepresidenan Indonesia. Sebagai pemenang yang merupakan orang yang kemungkinan besar akan memerintah Indonesia, prediksi susunan kabinet 2009 - 2014 kemudian beredar. Isu komposisi kabinet kemudian menjadi menarik.

Susunan Kabinet SBY

SBY berkemungkinan besar keluar sebagai Juara I Lomba Kepresidenan Indonesia. Sebagai pemenang yang merupakan orang yang kemungkinan besar akan memerintah
Tulisan ini bagian dari :
SBY

Skenario besar yang memukau

Dunia politik Indonesia adalah sinetron politik yang sangat menarik. Alur ceritanya sangat sulit ditebak, apalagi oleh seorang yang seawam saya. Tetapi sinetron politik tersebut menyuguhkan jalan cerita yang enak untuk dicermati. Salah satunya, penampilan seorang tokoh cerita bernama Jusuf Kalla. Skenario PKS
Skenario pertama yang berkaitan dengan Jusuf Kalla adalah skenario yang dimainkan PKS. Meskipun Hidayat Nur Wahid sudah populer sebagai salah satu kandidat cawapres dalam polling-polling yang diadakan lembaga survey, tetapi elektabilitas HNW sebagai cawapres masih jauh di bawah JK. Di samping sebagai cawapres incumbent, JK sangat berpeluang untuk melanjutkan kebersamaannya dengan SBY.

Isu peran JK yang terlalu menonjol kemudian dibesar-besarkan PKS. Peran JK di samping SBY yang begitu kuat ditafsirkan dualisme kepresidenan. Kondisi yang tentunya sangat mengkhawatirkan. Dengan isu ini PKS berhasil mencampakkan JK dan memberi peluang kepada HNW.

Tetapi koalisi lain tidak tinggal diam, PKB misalnya membuat manuver dukungan kiai kepada Muhaimin Iskandar sebagai cawapres. Manuver paling besar diusung PAN. PAN kemudian berhasil mengangkat nama Hatta Rajasa. Manuver-manuver tersebut pada akhirnya membuat SBY bulat mengangkat Boediono, orang yang bahkan tidak pernah disebut-sebut namanya sebelumnya sebagai cawapres.

Meski PKS tidak berhasil mencapai tujuan politiknya, tetapi JK telah terlempar dari sisi SBY. Kenyataan yang menimbulkan geram Mufidah dengan mengistilahkan "Habis manis sepah dibuang." SBY dinilai Mufidah hanya menjadikan JK sebagai bumper semata.

Isu Triple A
JK bukanlah berangkat dari kepengurusan Golkar. JK semula hanyalah kader biasa yang beruntung menjadi Menperidag. Posisi inilah yang pada awalnya mengantarkan JK sebagai salah satu anggota Dewan Pembina Golkar. Ketika JK akhirnya digandeng SBY, JK pun sempat dipecat dari Golkar.

Keberhasilan pasangan SBY-JK menjadi pemimpin Indonesia mau tidak mau harus dimanfaatkan Golkar. Dengan menjadikan Kalla sebagai Ketua Umum, Golkar akhirnya lepas dari nasib sebagai oposisi, posisi yang tidak diingini oleh Golkar. Tetapi bagaimanapun, Golkar tidak nyaman di bawah kepemimpinan Kalla. Nasib Golkar sebagai salah satu partai yang menerima imbas badai Demokrat, meski masih beruntung menempati posisi nomor 2, harus dipertanggungjawabkan Kalla.

Tetapi isu tersebut ternyata tidak cukup. Para pimpinan Golkar kemudian berpura-pura mendukung JK sebagai capres. Namun tidak sampai dalam tempo 24 jam, para pimpinan daerah Golkar kemudian menyatakan kekecewaannya atas deklarasi tersebut. Gerilya politik dijalankan. Para pengurus Golkar daerah kemudian bersikap pasif dalam kampanye pemenangan JK-Win. Sementara itu di pusat, pengurus partai Golkar sibuk mengadakan manuver-manuver, di antaranya isu Munaslub dipercepat.

Langkah yang disusun Triple A ternyata mulus, JK-Win mengalami kekalahan yang sangat telak. Dengan sendirinya, tidak ada alasan bagi JK untuk mempertahankan jabatan Ketua Umumnya.

Langkah Kalla ke depan
JK telah menjalani takdirnya. Ketika SBY belum memiliki dana yang cukup untuk kampanye di 2004, JK dimanfaatkan. Ketika dana tidak dipermasalahkan, JK akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak begitu diperlukan.

Ketika Golkar membutuhkan kekuatan untuk ikut serta dalam kabinet, Golkar memanfaatkan JK. Ketika kekuatan tersebut sudah hilang, JK harus menerima nasib dibuang Golkar.

Agar tidak begitu terpuruk, SBY kemudian "menyelamatkan" sahabatnya ini. Daniel Sparingga dari Universitas Airlangga menyarankan JK menerima peran sebagai duta perdamaian.

Sebaliknya, pengamat yang lain mengharapkan JK untuk beroposisi. Posisi yang tentu saja tidak akan mungkin dijalankan JK tanpa partai.

Kedua skenario tersebut sama-sama buruk dan sama-sama baik.
Buruknya, skenario pertama hanyalah bentuk lain "pemanfaatan" JK, namun masih dapat mengangkat harga diri JK, sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa JK toh masih berharga.

Skenario kedua hanyalah memperparah citra JK, sebagai kandidat yang dianggap tidak "diperhitungkan" maka oposisi JK dengan kendaraan Golkar sebagai partai yang dikenal tidak memiliki visi dan misi yang jelas hanyalah dianggap sebagai suara orang yang kalah. Tetapi seandainya JK didukung oleh partai yang memang betul-betul senada dengan visi dan misinya di saat kampanye, tentu peran oposisi JK masih dapat dihargai.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Terbukti, Golkar partai oportunis

Kekalahan yang dialami oleh JK-Win dalam pilpres sungguh drastis. Suara yang diperoleh pasangan ini betul-betul jauh dari modal usungan partainya yang 20%. Berarti pasangan ini tekor 7%. Padahal suara itu sudah dibantu dari dukungan dari pendukung nonkoalisi. Artinya jika suara dikurangi suara Hanura yang sekitar 4% dan sumbangan suara non golkar sebesar anggap saja 2%, maka suara dari Golkar sendiri hanya 7%, artinya JK-Win hanya mengumpulkan
suara 50% dari pendukung Golkar.

Dari sejumlah basis Golkar hanya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara saja yang solid mendukung pasangan JK-Win. Sementara di daerah lain pasangan ini tidak didukung oleh Golkar. Di Riau misalnya, jika pada pileg lalu Gubernur dan para bupati dari Golkar berkampanye, pada pilpres justru pasif. Kalau memang ada aturan, kenapa pada pilpres dilarang dan pileg diperbolehkan? Gerak pengurus di daerah pun tidak kelihatan. Tidak seperti pengurus PDIP dan Demokrat yang solid mengampanyekan capres mereka, Golkar tidak bergerak.

Partai Penuh Oportunis
Melihat sejarah, Golkar adalah partai yang dicap tidak konsisten. Sejarah membuktikan.

Pada saat voting laporan pertanggungjawaban Habibie, PAN, PKS, PBB, PPP solid mendukung Habibie, tetapi kubu Golkar yang dikomandoi Marzuki Darusman dkk justru membelot ke kubu PDIP.

Pada pemilu 2004, kubu Golkar yang dikomandoi Fahmi Idris dkk justru menyeberang ke pasangan SBY-JK.

Pada pemilu 2009, kubu Golkar simpatisan Akbar Tanjung menyeberang ke SBY.

Kalau dicatat banyaknya pilkada yang dimenangkan pasangan non-Golkar di daerah mayoritas Golkar sendiri, kasus-kasus seperti itu tidak terhitung.

Hukum Karma
Bagi Jusuf Kalla sendiri sebenarnya sudah impas. Pada pemilu 2009 lalu, kubunya yang menggembosi Golkar. Pemilu 2009 ini justru dia yang digembosi.

Masih pantaskah Golkar diperhitungkan
Dengan sejumlah kasus tersebut, sebenarnya harus jadi pelajaran bagi para tokoh-tokoh public figur yang ingin mencalonkan diri dari Golkar, masih pantaskah Golkar dijadikan kendaraan politik? Untuk persyaratan administratif tentu masih, tetapi untuk kemenangan/kesuksesan, tentu lihat kembali fakta yang ada.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Akhirnya JK-Win gantung sepatu

Hasil resmi pilpres baru diketahui sekitar pukul 16.00 WIB nanti. Namun, quick count yang diselenggarakan sejumlah lembaga survey sudah mendekati final. Hasilnya: SBY menang dengan 59%, Megapro:27% dan JK-Win:14%. Dengan perolehan tersebut diperkirakan JK-Win akan gantung sepatu.

Satu keluarga pilihan berbeda

Inilah realitas politik zaman sekarang. Jangankan mengharapkan konstituen satu partai memiliki pilihan yang sama, keluarga pun belum tentu memiliki pilihan yang sama. Itu adalah manusiawi. Di zaman demokrasi dan HAM ini, tidak zamannya lagi memaksa-maksakan kehendak politik.

Dalam keluarga saya misalnya, saya dan ayah cenderung ke pilihan no 3. Tetapi anggota keluarga yang perempuan cenderung ke no. 2. Apa dan bagaimana hal itu terjadi, itulah realitas.

Tentunya, masing-masing punya alasan sendiri.

Tim sukses

Apakah saya timses JK-Win? Kalau membaca postingan-postingan saya di blog ini mungkin akan ada kesan seperti itu. Seperti yang dinyatakan wyd dalam komentarnya. Tetapi perkiraan itu salah.