Tampilkan postingan dengan label Pilpres 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilpres 2009. Tampilkan semua postingan

Perang Palu

Perang isu sejalan dengan selesainya pilpres sudah mulai reda. Namun, sinetron kekuasaan Indonesia tidak berarti dengan sendirinya selesai. Saat ini, kita disuguhkan dengan adegan baru, "perang palu".

Sportivitas ala Anas Urbaningrum

Langkah Megawati Prabowo menolak keputusan KPU dinilai Anas Urbaningrum sebagai tanda elemen demokrasi masih muda. Sportivitas, kedewasaan, dan sikap legowo perlu ditingkatkan, kata Anas.


Sportivitas tidak berarti membiarkan kecurangan
Apakah orang yang tidak mau menerima kekalahan tidak sportif? Kalau permainan dijalankan secara sportif, tentu saja tidak mau kalah sama dengan tidak sportif. Tetapi ingat, sportivitas bukan hanya pada hasil akhir. Sportivitas justru terletak pada proses permainan. Pemilu yang dilangsungkan dengan jujur, itulah yang sportif.

Kita tentu belum bisa disamakan dengan Amerika yang memang proses pemilunya berjalan sportif. Karenanya akan aneh kalau ada yang menolak hasilnya.

Kedewasan bukan berarti membiarkan dicurangi
Jika kita dicurangi lalu diam berarti dewasa, maka arti dewasa telah berubah. Sebaliknya, jika kita tidak dicurangi, kita teriak-teriak barulah dipertanyakan.

Legowo mental yang buruk
Salah satu mental yang ditanamkan penjajahan adalah legowo. Legowo ada baiknya, tetapi kalau kita dipermainkan, kalau ada yang bermain kotor, kalau ada yang menjahati, kita harus pasrah, maka legowo apa benar. Ada yang korupsi, kita pasrah. Apakah harus begitu?

Kalau pemilu, pilpres sudah berjalan dengan sportif lalu ada yang menolak hasilnya, maka orang yang demikian perlu dibuang. Tetapi kalau masih belum berjalan sportif, maka orang yang demikian musti diacungkan jempol. Apakah pemilu dan pilpres di Indonesia sudah berjalan sportif?

Kemenangan SBY dibatalkan

Kubu Megapro menuntut pilpres diulang. Pasalnya ditemukan banyak penyimpangan ditemukan. Misalnya ada 7.000.000 suara bermasalah ditemukan pada 6 provinsi.

Terbukti, Golkar partai oportunis

Kekalahan yang dialami oleh JK-Win dalam pilpres sungguh drastis. Suara yang diperoleh pasangan ini betul-betul jauh dari modal usungan partainya yang 20%. Berarti pasangan ini tekor 7%. Padahal suara itu sudah dibantu dari dukungan dari pendukung nonkoalisi. Artinya jika suara dikurangi suara Hanura yang sekitar 4% dan sumbangan suara non golkar sebesar anggap saja 2%, maka suara dari Golkar sendiri hanya 7%, artinya JK-Win hanya mengumpulkan
suara 50% dari pendukung Golkar.

Dari sejumlah basis Golkar hanya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara saja yang solid mendukung pasangan JK-Win. Sementara di daerah lain pasangan ini tidak didukung oleh Golkar. Di Riau misalnya, jika pada pileg lalu Gubernur dan para bupati dari Golkar berkampanye, pada pilpres justru pasif. Kalau memang ada aturan, kenapa pada pilpres dilarang dan pileg diperbolehkan? Gerak pengurus di daerah pun tidak kelihatan. Tidak seperti pengurus PDIP dan Demokrat yang solid mengampanyekan capres mereka, Golkar tidak bergerak.

Partai Penuh Oportunis
Melihat sejarah, Golkar adalah partai yang dicap tidak konsisten. Sejarah membuktikan.

Pada saat voting laporan pertanggungjawaban Habibie, PAN, PKS, PBB, PPP solid mendukung Habibie, tetapi kubu Golkar yang dikomandoi Marzuki Darusman dkk justru membelot ke kubu PDIP.

Pada pemilu 2004, kubu Golkar yang dikomandoi Fahmi Idris dkk justru menyeberang ke pasangan SBY-JK.

Pada pemilu 2009, kubu Golkar simpatisan Akbar Tanjung menyeberang ke SBY.

Kalau dicatat banyaknya pilkada yang dimenangkan pasangan non-Golkar di daerah mayoritas Golkar sendiri, kasus-kasus seperti itu tidak terhitung.

Hukum Karma
Bagi Jusuf Kalla sendiri sebenarnya sudah impas. Pada pemilu 2009 lalu, kubunya yang menggembosi Golkar. Pemilu 2009 ini justru dia yang digembosi.

Masih pantaskah Golkar diperhitungkan
Dengan sejumlah kasus tersebut, sebenarnya harus jadi pelajaran bagi para tokoh-tokoh public figur yang ingin mencalonkan diri dari Golkar, masih pantaskah Golkar dijadikan kendaraan politik? Untuk persyaratan administratif tentu masih, tetapi untuk kemenangan/kesuksesan, tentu lihat kembali fakta yang ada.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY
  3. Golkar

Akhirnya JK-Win gantung sepatu

Hasil resmi pilpres baru diketahui sekitar pukul 16.00 WIB nanti. Namun, quick count yang diselenggarakan sejumlah lembaga survey sudah mendekati final. Hasilnya: SBY menang dengan 59%, Megapro:27% dan JK-Win:14%. Dengan perolehan tersebut diperkirakan JK-Win akan gantung sepatu.

Satu keluarga pilihan berbeda

Inilah realitas politik zaman sekarang. Jangankan mengharapkan konstituen satu partai memiliki pilihan yang sama, keluarga pun belum tentu memiliki pilihan yang sama. Itu adalah manusiawi. Di zaman demokrasi dan HAM ini, tidak zamannya lagi memaksa-maksakan kehendak politik.

Dalam keluarga saya misalnya, saya dan ayah cenderung ke pilihan no 3. Tetapi anggota keluarga yang perempuan cenderung ke no. 2. Apa dan bagaimana hal itu terjadi, itulah realitas.

Tentunya, masing-masing punya alasan sendiri.

Bolamania JK-Winia

Dukungan Nurdin Halid, Ketum PSSI dan latar belakang JK dari Makassar, salah satu kota yang terkenal sebagai salah satu kota bola di Indonesia serta pernyataannya tentang spirit Persipura belum dapat kita katakan bahwa JK bolamania.

Paranormalisasi Kemenangan JK-Win

Isu magis juga dikembangkan oleh para pendukung JK-Win walaupun berbeda dengan SBY yang mengungkapkannya secara langsung bahwa dia disihir. Kebetulan-kebetulan yang terjadi pada JK-Win telah dikembangkan oleh pendukung JK-Win sebagai tanda-tanda kemenangan JK-Win seperti yang ditulis Joko Suryo di jkwin4you.com.

Negeri Sihir

Waspada Online, versi online Harian Waspada, harian terkemuka di Sumatera Utara dan Aceh menuliskan berita yang unik. Berita tersebut adalah mengenai pengakuan SBY dalam acara zikir bersama pengajian SBY-Nurussalam di Puri Cikeas, Bogor bahwa SBY diganggu melalui sihir. “Ketika kami menuju Balai Sabrini yang merupakan tempat debat putaran terakhir, saya, istri, pengawal, serta pengemudi sejak keluar dari rumah terus berdzikir karena mengalami sesuatu hal yang aneh. Namun, akhirnya kami selamat sampai tujuan," tutur SBY.

Mungkinkah SBY dikalahkan?

Debat capres yang dimenangkan oleh Jusuf Kalla, iklan cerdas yang apik dan kampanye dialogis yang menyentuh telah meningkatkan elektabilitas JK-Win. Namun demikian, secara umum, citra SBY yang telah lebih dahulu terbangun sepertinya masih di atas angin. Meskipun polling SMS dan sejumlah survey menunjukkan penurunan elektabilitas SBY, tetapi berbagai poling masih menempatkan nilai elektabilitas SBY yang masih di atas 50%.

Ketidaksantunan pendukung capres santun

Salah satu pasangan capres yang diajukan dalam Pilpres 2009 dinilai oleh pendukung fanatiknya sebagai pasangan capres yang paling santun. Namun perilaku pendukungnya justeru jauh dari kesantunan.

Rumus memilih presiden

Rumus memilih presiden telah ditemukan. Itulah hasil kreativitas anak bangsa. Ada-ada saja memang. Tetapi rumus ini ternyata hebat juga.

Rumus
1. Tuliskan umur kalian.
2. Lalu dikali 2, karena umumnya pemilu dilaksanakan 2 putaran.
3. Kemudian ditambah 14. Angka 14 didapat dari bulan pelaksanaan pemilu dikali 2.
4. Kurangi 8 (tanggal Pilpres).
5. Bagi 2.
6. Kurangi dengan umur.

Update
Rumus tersebut dipaparkan oleh eksponen 45, Letjen Purn. R. Soeprapto yang tergabung dalam Dewan Harian Nasional Badan Pembudayaan Kejuangan (DHNBPK).

Kenapa Mallarangeng tidak dipecat

Kontroversi yang dilakukan dua orang anggota keluarga Mallarangeng, Rizal dan Alfian dianggap dapat menurunkan elektabilitas SBY-Boediono. Meski belum terbukti, tetapi simpati sekelompok anggota masyarakat terhadap SBY-Boediono menjadi turun. Tetapi hingga saat ini, SBY-Boediono masih mempertahankan kedua orang tim sukses kontraproduktifnya tersebut. Kenapa?

Dekan Pascasarjana Universitas Tarumanegara orang comberan

Dekan Pascasarjana Universitas Tarumanegara ternyata orang comberan. Itu bukan pernyataan saya lho. Itu pernyataan Rizal Mallarangeng dalam acara Apa Kabar Malam di TV-One.

pendidikan politik sudah gagal

Melejitnya isu-isu kampanye yang jauh dari pembeberan visi dan misi sungguh mengecewakan. Sebagai anak bangsa yang menginginkan negara ini menjadi negara yang lebih baik, saya kecewa. Sebagai anak bangsa yang menyadari bahwa Indonesia sebenarnya memiliki beraneka ragam potensi yang belum terangkat, saya prihatin.

Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar

Seandainya saja melanjutkan chemistry SBY-JK, barangkali tidak akan ada protes dari masyarakat tentang jargon pemilu satu putaran. Bahkan seandainya LSI mengatakan keterpilihan pasangan ini 80% atau lebih, mungkin umum bisa menerima. Lalu kenapa SBY begitu ngotot memilih Boediono? Apakah SBY telah melakukan suatu kesalahan keputusan?

Kenapa tidak ada yang bicara listrik dan tenaga kerja

Ada yang aneh dalam pilpres kali ini. Setelah Amin Rais dan PKS meluncurkan isu neolib, MegaPro dan JK-Win seakan-akan terpancing untuk mengolah isu itu. Padahal ada isu lain yang sangat penting, yakni kegagalan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja dan pasokan energi.

Membantu dan politik uang

Apa sih pengertian politik uang? Tindakan Jusuf Kalla membantu Erlin Dewi yang terlilit hutang Rp. 5 juta diindikasikan Panwaslu SOlo sebagai politik uang. Apakah benar atau tidak?

Kalau kampanye tidak saling serang

Sibuk dengan Rusli Zainal sang visioner bukan berarti lupa dengan kondisi real politik Indonesia. Satu hal yang menarik perhatian adalah pernyataan Tim Sukses SBY-Boediono, bahwa saling serang tidak etis. Ungkapan tersebut disampaikan Syarif Hassan menanggapi pernyataan Megawati bahwa SBY sombong dan tidak etis.

Etiskah Ketua MPR berkampanye

Komentar tentang keikutsertaan pejabat publik dalam berkampanye marak. Ada beberapa pertimbangan keikutsertaan pejabat dalam berkampanye yakni keadilan dan netralitas, efektifat tugas dan penyalahgunaan jabatan.