Relevansi Ulama Mesir dalam Kasus Ahok

Pengacara Ahok (Basuki Cahaya Purnama) berencana mengundang ulama Mesir dalam persidangan Ahok. Barangkali, hal ini terinspirasi dari persidangan Jessica Kumala Wongso. Pertanyaannya, apakah relevan?

Ada perbedaan antara penguasa (Jokowi) dengan umat Islam dalam menyikapi kasus Ahok. Penguasa sepertinya tidak mengakui pendapat MUI, sedangkan umat Islam menerimanya.

Islam terdiri dari berbagai firqah :

  1. Ahlussunah wal Jamaah, merupakan firqah yang selalu bersandarkan kepada al Qur’an, Hadits dan Ijma’ alim ulama.
  2. Khawarij, merupakan firqah yang dibentuk oleh sebagian kaum yang tidak puas dengan perdamaian antara Ali dengan Muawiyah (yang keluar dari jamaah).
  3. Syiah, merupakan firqah yang dibentuk oleh sebagian kaum yang menolak perdamaian antara Hasan dengan Muawiyah dan mendambakan keturunan Husein bin Ali sebagai khalifah.
  4. Murjiah, merupakan firqah yang dibentuk oleh Hasan bin Bilal al Muzni, abu Salat as Samman dan kawan-kawan yang menjauhkan diri dari pertikaian antara kaum Syiah, kaum Muawiyah, kaum Khawarij dan pengikut Ali dengan menangguhkan permasalahan tersebut di hadapan Allah untuk mengetahui kebenarannya.
  5. Mu’tazilah, merupakan firqah yang dibentuk oleh Washil bin Atha’ yang menyisihkan diri dari pengajian Syekh Hasan Basri.
  6. Musyabbihah, Mujassimah, merupakan firqah yang dibentuk oleh sebagian pengikut mazhab Hanbali ---- di antaranya Abu Abdillah bin Hamid bin Ali al Bagdadi al Warraq (wafat 403 H, pengarang “Syarah Ushuluddin”), Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Husein bin Faraq al Hanbali (wafat 458 H), Abu Hasan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az-Zugwani al Hanbali (wafat 527 H, pengarang “al Idah”) --- yang menafsirkan ayat-ayat tasybih menurut lahirnya, sehingga kemudian berfatwa bahwa Tuhan memiliki muka, tangan dan sebagainya. Paham ini kemudian diikuti oleh Ahmad Taqiyuddin Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syekh Majduddin Abil Barakat Abdussalam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Kasim al Khadar bin Muhammad bin al Khadar bin Ali bin Abdillah yang dikenal sebagai Ibnu Taimiyah (wafat 724 H) yang semula adalah ulama Kurdi dari mazhab Hanbali di Palestina. Paham ini kemudian dikembangkan lagi oleh ulama Hanbali dari Banu Tamim, Muhammad bin Abdul Wahab (wafat 1206 H) yang ajarannya kemudian dikenal sebagai Wahabi sebagai firqah resmi keluarga kerajaan Arab Saudi.

Dalam kalangan Ahlussunnah wal Jamaah dikenal 4 mazhab besar, yakni :

  1. Mazhab Maliki, Maroko.
  2. Mazhab Hanafi, Afrika Utara, Turki,Iraq, Pakistan dan India Utara, Cina, Asia Tengah, Eropa, sebagian Hijaz.
  3. Mazhab Hanbali, Nejdi dan sebagian Hijaz.
  4. Mazhab Syafi’i, Afrika Timur (Somali dan sebagian Mesir), Hadramaut, sebagian Hijaz,  sebagian Yaman, India Selatan dan Asia Tenggara.

Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara merupakan penganut mazhab Syafi’i. Organisasi-organisasi Islam besar Indonesia menyatakan bahwa mereka mengutamakan mazhab Syafii, di antaranya Nahdatul Ulama (NU), Nahdatul Wathan (NW), Mathlaul Anwar, al Wasliyah, Perti.

Salah satu ciri Aswaja adalah Ijma’ dan Majelis Ulama Indonesia yang didirikan pada zaman Soeharto merupakan lembaga tempat berijmanya ormas-ormas Islam Indonesia.

Berkaitan dengan undangan ulama Mesir tersebut, maka timbul pertanyaan :

  1. Manakah yang lebih tinggi hasil Ijma’ para ulama Indonesia atau seorang ulama Mesir, dengan mengundang ulama Mesir apakah tidak berarti menghina Majelis Ulama Indonesia?
  2. Apakah ulama Mesir tersebut memiliki firqah dan mazhab yang sama dengan firqah dan mazhab yang diyakini di Indonesia.
  3. Sebagai negara hukum, apakah akan tertib hukum di Indonesia apabila setiap orang berhak memiliki penafsiran-penafsiran sendiri.

0 komentar: