Surat Terakhir Sang Wakil Menteri

Prof. Dr. Widjajono Partono Widagdo, wakil menteri ESDM, yang meninggal dunia Sabtu, 22 April 2012, tidak hanya meninggalkan segudang ide mengenai Manajemen Minyak dan Gas Bumi, tetapi juga meninggalkan kesan mengenai kepribadiannya yang sederhana, unik tetapi pintar. Kepribadiannya yang mengagumkan tergambar dalam surat terakhirnya:

Kalau kita menyayangi orang-orang yang kita pimpin, Insya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menunjukkan cara untuk membuat mereka dan kita lebih baik.

Tuhan itu Maha Pencipta, segala kehendak-Nya terjadi.

Saya biasa tidur jam 20.00 WIB dan bangun jam 02.00 WIB pagi lalu Salat malam dan meditasi serta ceragem sekitar 30 menit, lalu buka komputer buat tulisan atau nulis email.

Dalam meditasi biasa menyebutkan: ''Tuhan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang, aku sayang kepadaMu dan sayangilah aku. Tuhan Engkau Maha Pencipta, segala kehendak-Mu terjadi''

Lalu, saya memohon apa yang saya mau (dan diakhiri dgn mengucap)

''Terima kasih Tuhan atas karuniaMu.''
Subuh saya Sholat di Mesjid sebelah rumah lalu jalan kaki dari Ciragil ke Taman Jenggala (pp sekitar 4 kilometer). Saya menyapa Satpam, Pembantu dan Orang Jualan yang saya temui di jalan dan akibatnya saya juga disapa oleh yang punya rumah (banyak Pejabat, Pengusaha dan Diplomat). Sehingga, saya memulai setiap hari dengan kedamaian dan optimisme karena saya percaya bahwa apa yang Dia kehendaki terjadi dan saya selain sudah memohon dan bersyukur juga menyayangi ciptaan-Nya dan berusaha membuat keadaan lebih baik.

Oh ya, Tuhan tidak pernah kehabisan akal. Jadi, kita tidak perlu kuatir. Percayalah?


Salam,
widjajono

Surat terakhir Widjajono ini menggambarkan bagaimana keseharian beliau, di antaranya:

  1. Selalu Shalat Malam
  2. Selalu bermeditasi
  3. Sangat dekat dengan Tuhan
  4. Diliputi nuansa sabar dan syukur
  5. Memiliki integritas keilmuan dengan menulis.

Semoga, menteri-menteri yang berilmu dan bertaqwa berikutnya akan tetap menghiasi kabinet Indonesia. Tidak mengandalkan penampilan fisik dan pencitraan, tetapi terlahir dari suasana jiwa yang tawadhu dan akal pikiran yang cerdas.

0 komentar: