Nasib PKS, tetap di koalisi atau keluar

Selasa, 3 April 2012 diadakan pertemuan di Puri Cikeas. Dalam pertemuan tersebut hadi pimpinan partai koalisi, yakni:

  1. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa
  2. Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie
  3. Ketua Umum PKB Muhaimain Iskandar
  4. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum
  5. Ketua Umum PPP Suryadarma Ali (SDA)

Pertemuan yang membahas masa depan koalisi tersebut tidak dihadiri Ketua Umum PKS, Luthfi Hasan Ishaaq. Tidak seperti pertemuan membahas rencana kenaikan BBM, 14 Maret 2012.

PKS memang merupakan partai koalisi yang tidak etis. Hanya mau manisnya, tidak mau pahitnya. Dalam menghadapi rencana kenaikan BBM, PKS tidak mau mengambil resiko. Bahkan tidak sekedar tidak mendukung, politisi PKS di DPR pun ikut memberikan orasi di hadapan pendemo anti kenaikan BBM. Partai lainnya yang juga suka gamang, yakni Partai Golkar pun akhirnya ikut-ikutan bermanuver.

Tindakan PKS tersebut dianggap telah melanggar kesepakatan 23 Mei 2011 yang merupakan pembaruan dari kesepakatan 15 Oktober 2009. Butir 5 kesepakatan yang ditandatangani 6 Ketua Umum Parpol, Presiden SBY dan Wapres Boediono menyatakan bahwa parpol koalisi yang melanggar kesepakatan koalisi, bisa mengundurkan diri. Bila tidak mengundurkan diri maka kebersamaan dengan parpol koalisi berakhir.

Ketua DPP PD Bidang Bappenas Kastorius Sinaga menyatakan bahwa telah tersirat SBY men-talak tiga PKS. Permintaan Ketua Umum PKS untuk bertemu usai pertemuan tidak ditanggapi SBY. Dalam pertemuan di DPP PD, SBY pun mengungkapkan rencana menggeser PKS. Sejak 4 April 2012, bendera PKS di Setgab diturunkan beberapa jam setelah pimpinan Setgab bertemu di rumah SBY, 3 April 2012.

Saat ini ada 3 (tiga) menteri asal PKS di Kabinet, yakni Mentan Suswono, Menkominfo Tifatul Sembiring dan Mensos Salim Segal al Jufri. Dikabarkan Kamis 5 April 2012, Suswono mendadak mengadakan rapat internal. Nama Jafar Hafsah, mantan Ketua Fraksi PD di DPR digadang-gadang sebagai pengganti Suswono.

Beredar kabar bahwa SBY sedang mengirim utusan ke PDIP dan Gerindra untuk melobi pengisian jabatan pengganti kursi menteri yang bakal ditinggalkan PKS. Isu lain, dua kursi untuk PD dan satu kursi untuk Golkar, namun Golkar menolak karena takut dianggap penggusur PKS.

Tetapi isu itu ditampik Tifatul Sembiring. Tifatul menyatakan bahwa sampai saat ini tidak ada isu reshuffle. Namun kenyataannya, Kamis 5 April 2012 PKS mengadakan rapat internal di TB Simatupang. Selain Presiden dan Sekjen PKS, dua menteri asal PKS pun hadir. Pada saat yang bersamaan, SBY dan Wapres Boediono mengadakan rapat di Istana Cipanas membahas reshuffle kabinet. Kabar ini dibantah Jubir Wapres, Yopie Hidayat.

Sikap dan langkah SBY terhadap PKS memang lamban. SBY berharap PKS yang mengundurkan diri dari koalisi. SBY tidak ingin ada kesan PKS dizalimi. Pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bhakti mengatakan mengharapkan PKS mundur dari koalisi tidak mungkin. SBY sudah saatnya mengeluarkan PKS.

Menurut pengamat politik UGM, SBY diprediksi hanya akan mengucilkan PKS dari koalisi. Beberapa pertimbangan SBY untuk tidak mengeluarkan PKS dari koalisi:

  1. Hilangnya kekuatan penyeimbang. Jika PKS keluar, maka posisi Golkar akan semakin kuat. PKS kuat di ekstra-parlementer dan Golkar kuat di intra-parlementer.
  2. PKS akan bertambah kuat. Akan ada kesan PKS dizalimi karena membela rakyat.

Sebaliknya, PKS juga akan rugi jika keluar dari koalisi. Akses ekonomi politik dan akses kekuasaan PKS menjadi hilang.


Tulisan ini bagian dari :
SBY

0 komentar: