Usul tidak populer dari pecundang yang populer

Abdul Hafiz Anshary, pecundang Pilkada Kalimantan Selatan yang populer dengan ketidakbecusan kinerjanya selama menjabat sebagai Ketua KPU membuat sebuah usulan yang sangat tidak populer di era demokrasi ini, yaitu pengembalian pemilihan gubernur oleh DPRD. Jika usulan ini jadi dilaksanakan, mungkin usulan-usulan untuk mundur ke belakang seperti pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR dan sebagainya akan dengan gampang ditelorkan.


Alasan mendasar dikeluarkannya usulan tersebut oleh si "pecundang yang tidak becus" adalah tidak lain masalah biaya. Menurut Hafiz, biaya yang dikeluarkan selama pilkada sangat besar. Hafiz yang mengalami kekalahan dalam pilgub menyatakan bahwa pilkada juga syarat dengan politik uang, meski pemilihan oleh DPRD juga syarat politik uang.

Masalahnya mungkin hanya satu, politik uang yang dijalankan untuk pemilihan DPRD resikonya lebih kecil. Kalau seseorang sudah berhasil menyuap anggota DPRD dapat dipastikan dia bisa duduk tenang menunggu saat-saat Hari Hnya saja, sebaliknya money politic dalam pilkada memiliki resiko yang sangat besar. Bisa jadi, pada hari H, masyarakat pemilih justeru bertindak berdasarkan hati nuraninya. Selain itu, menyuap masyarakat jauh lebih susah daripada menyuap anggota DPRD yang jumlahnya tidak seberapa.

Kalau permasalahannya biaya, seharusnya KPU berpikir bagaimana caranya pembiayaan pilkada menjadi lebih irit dan terhadap masalah money politic, KPU pun harus merancang suatu sistem pemilihan yang lebih ketat.

Tidak mau ambil pusing
KPU di zaman Hafiz terkesan tidak mau ambil pusing dan berusaha mengurangi kerja-kerja yang menjadi bebannya. Lihat saja pelaksanaan pileg dan pilpres. Setiap ada masalah KPU mengabaikannya dan melemparkannya ke MK.

Pilkada pun akan menjadi beban kerja KPU. Oleh karenanya, biar kerjanya lebih enteng, KPU berusaha mengurangi pilkada, yakni dengan menghapuskan pilkada gubernur.

Pertanyaannya: Kalau memang tidak mau menanggung beban, kenapa mau jadi komisioner KPU?

Soetrisno Bachir akhirnya keluar dari "Dunia HItam"

Sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Pepatah itu sudah mendarah daging di Indonesia. Namun nyatanya, seringkali terlupa. Itulah juga yang terjadi pada Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN. Sosok yang berjasa menyelamatkan PAN dari kehancuran ini, baru menyadari kekeliruan langkahnya saat-saat sekarang, setelah harta bendanya habis terkuras. SB baru sadar, seandainya uang yang segitu banyak digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, alangkah bermanfaatnya.


Dunia hitam banyak menelan orang-orang lugu bak SB. Tetapi SB tidak sendirian. Caleg-caleg yang banyak bertaburan di rumah sakit jiwa sekarang ini adalah juga orang-orang lugu yang menjadi korban dunia hitam.

Dunia hitam penuh intrik dan tipu. Orang-orang lugu hanya mengandalkan perhitungan. Ibarat judi, kebanyakan pejudi menggunakan modal yang juga didapatkan dari trik hitam, hasil maling, menipu dan sebagainya. Orang-orang lugu menggadaikan tanahnya, pensiunnya dan sebagainya untuk berjudi di dunia hitam.

Pejudi ulung yang telah lama malang melintang mengocok-ocok kartu sedemikian rupa dalam permainan sehingga kartu yang diterimanya AS dan joker semua. Orang-orang lugu bak SB dengan sportifnya membagi-bagi kartu. Akhirnya, kartu yang didapat jeblok semua.

Para pejudi ulung bersandiwara seakan-akan berlawanan, namun dalam permainan ternyata 'mandan'. Orang-orang lugu bak SB sangat percaya akan teman mainnya dan sangat berhati-hati pada lawannya. Padahal kawannya justru adalah lawan yang berbahaya. Ya dunia hitam susah membedakan kawan dan lawan.

Seorang lugu bermain wanita. Wanita tersebut seakan-akan tertarik dengan si lugu dan tidak menaruh perhatian kepada pesaing. Si lugu percaya dan dengan suka rela dipeloroti hartanya. Padahal hasil pelorotan itu digunakan si wanita untuk modal si pesaing berpoya-poya. Dunia hitam memang penuh tipu daya. Dan SB telah terpedaya dan terpeloroti.

Sekarang, SB sudah sadar dan siap untuk meninggalkan "dunia hitam". Selamat, semoga di "dunia putih" nanti, SB dapat kedamaian dan ketenangan.

Akankah Golkar jadi PKB kedua?

Pasca pilpres Golkar terbelah dua. Berpecahnya SBY - JK menyebabkan Golkar menjadi dua kekuatan, yakni kubu pro JK dan kubu pro SBY. Kedua kubu saat ini akan bertarung dalam Munaslub Golkar. Kubu SBY dimotori oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono berencana mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar. Sementara Kubu JK telah membentuk Tim Pemenangan Yuddy Chrisnandy dengan Ketua Tim Sukses Zainal Bintang, Manajer Kampanye Indra J. Piliang, mantan anggota tim sukses JK pada pilpres lalu.

Namun informasi yang beredar luas, formasi yang diusung kubu JK adalah Surya Paloh sebagai Ketua Umum, Siswono Yudhohusodo sebagai Wakil Ketua Umum dan Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat.

Pertarungan kedua kubu ini akan sangat panas. Aburizal Bakrie sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dan didukung SBY sebagai pemerintah berpeluang besar untuk menang. Aburizal Bakrie atau yang disapa Ical berjanji akan membangkitkan kebesaran Golkar.

Siapa pun yang duduk berkeinginan kuat untuk menjadikan Golkar besar kembali seperti Pemilu 2004. Tetapi kondisi yang dihadapi Golkar jauh berubah. Tahun 2004 adalah tahun kekecewaan pemilih kepada partai-partai reformis yang dianggap bukan saja kurang becus mengurus negara, tetapi kebersihannya juga lebih kurang sama dengan partai-partai yang selama ini disudutkannya. Oleh karenanya, masyarakat teringat nostalgia lama, Golkar dan Soeharto. Pada pemilu 2004, masyarakat memilih Golkar sebagai partai warisan Orde Baru dan memilih SBY yang dianggap memiliki karakteristik Soeharto, tidak banyak bicara, tenang dan militer.

2014 nostalgia-nostalgia orde baru dan soeharto sudah hilang dari benak masyarakat. Jika pemerintahan SBY tidak melakukan kesalahan yang fatal, nostalgia yang terjadi adalah nostalgia SBY dan Demokratnya. Akankah Golkar sanggup melawan?

Sebagai partai yang diisi kaum-kaum oportunis, kader-kader Golkar yang merasa peluang Golkar menyusut tentu saja akan mudah pindah perahu. Jika kubu SBY kalah, mungkin mereka akan migrasi besar-besaran ke Demokrat. Demikian pula, jika kubu JK kalah, mungkin juga akan migrasi besar-besaran ke PDIP atau Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, yang sampai saat ini masih calon terkuat capres pengganti SBY. Lalu, Golkar akan dikosongkan, seperti PKB pasca pertikaian Gus Dur Muhaimin. Dan mungkin, Golkar akan mengalami nasib yang sama seperti PKB? Siapa tahu.

Tulisan ini bagian dari :

  1. SBY
  2. Golkar