Tim sukses

Apakah saya timses JK-Win? Kalau membaca postingan-postingan saya di blog ini mungkin akan ada kesan seperti itu. Seperti yang dinyatakan wyd dalam komentarnya. Tetapi perkiraan itu salah.

Dalam setiap kompetisi apa pun, akan ada orang-orang yang terkesan dan menginginkan jagoannya menang dalam kompetisi. Secara tidak sadar, di warung kopi, di diskusi-diskusi, di blog, facebook dan sebagainya, mereka mempromosikan jagoannya. Secara tidak langsung, mereka menjadi timses tidak resmi/timses informal.

Saya pun semula hanya ingin membuat sebuah blog. Karena gonjang-ganjing politik Indonesia sekarang sangat menarik, maka menulis tentang itu sebuah gairah tertentu bagi saya. Bila sebelumnya, mencari ide untuk ditulis menjadi sangat sulit, sekarang ide itu mengalir dengan sendirinya.

Keuntungan
Apakah untungnya posting? Apalagi posting yang mengarah kepada dukungan kepada salah satu kandidat? Toh, kalau mereka menang, nasib kita secara real tidak juga berubah?

Pertanyaan tersebut sebenarnya sama seperti ketika anda ngeblog. Apa sih keuntungannya ngeblog? Uang anda habis hanya untuk menyajikan bahan untuk dibaca orang, yang mana belum tentu orang yang membaca mengapresiasi anda. Bahkan, boleh jadi dengan tulisan anda tadi, mungkin mereka akan negatif anda. Bisa jadi anda jadi bahan tertawaan, bahan cemooh dan sebagainya. Tetapi menulis posting yang ada sedikit isinya, lebih berarti daripada sekedar cuap-cuap tidak menentu.

Kenapa mendukung JK-Win
Dalam blog ini saya menulis apa adanya pikiran saya. Karena saya bukanlah politikus dan pengamat politik, maka isi blog ini kadang-kadang meluapkan emosi saya. Saya ingin menulis secara objektif tentang apa yang ada dan terjadi di indonesia. Tetapi, dorongan emosional menyebabkan saya cenderung mendukung salah satu kandidat dan agak-agak kurang respek terhadap kandidat lain.

Ada yang memberi feedback kepada saya melalui account saya di facebook, kenapa JK-Win? Saya sederhana saja. Siapa pun yang menjadi presiden, tidak ada pengaruhnya kepada saya. Sesuatu yang terjadi pada dasarnya adalah kehendak Allah SWT dengan variabel-variabel kondisi alam, kondisi ekonomi, sosial politik dalam dan luar negeri, kondisi politik lain seperti pandangan legislatif, LSM dan sebagainya. Dalam alam demokrasi ini, presiden dan politikus akan berusaha mengikuti arus umum masyarakat kecuali kalau mereka mampu mengubah arus tersebut.

Lalu kalau tidak ada hubungan dengan saya, kenapa saya sibuk dengan isu-isu kampanye JK-Win? Inilah kronologisnya.

Riau kaya, masyarakatnya miskin
Pada era orde baru, jargon riau kaya masyarakatnya miskin merupakan jargon yang populer. Kemiskinan masyarakat ini dianggap akibat pola pandangan pemerintah pusat yang dikuasai Jawa (Soeharto) yang memperlakukan Riau, Kaltim, Irja, Aceh dan daerah luar Jawa sebagai sapi perahan ibarat sebuah daerah jajahan. Oleh karenanya, pemikiran untuk melepaskan diri dari Indonesia sempat terlontar di daerah-daerah tersebut. Masyarakat Riau umpamanya pernah melontarkan Kongres Rakyat yang menuntut Riau Merdeka. Sebagai orang Riau, sebelum diterapkannya otonomi daerah, saya juga memiliki pemikiran ekstrim seperti tersebut. Pemikiran tersebut kemudian baru berubah pasca otonomi daerah, di mana setelah berjalannya otonomi daerah, di mana kuasa pemda untuk memakmurkan masyarakatnya sudah terbuka tetapi hasilnya omong kosong, maka ide-ide merdeka menurut saya ide yang aneh.

Keterbelakangan bukan hanya di Riau
Semenjak krisis moneter terjadi di Indonesia ada beberapa hal yang menyesakkan kepala. Susahnya mencari pekerjaan adalah salah satu kepahitan yang saya rasakan. Kepahitan yang sama masih berlaku sampai saat ini, di mana para sarjana yang dulunya sebelum krisis moneter tidak mau sembarangan memilih pekerjaan, akhirnya rela menjadi salesman atau surveyor. Mereka yang dulunya tidak mau memasuki fakultas pendidikan ramai-ramai melamar jadi guru bantu.

Krisis energi adalah permasalahan membelit bangsa yang sampai sekarang masih terasa. Madura gelap sebulan. Pemadaman listrik 9 jam per hari di Sumatera dan sebagainya. Belum lagi krisis BBM. Bensin yang resminya 5000-an bisa terjual Rp. 25.000-an karena langka.

Birokrasi pun masih menyakitkan kepala. Kalau kita berurusan dengan lembaga pemerintah seperti mengurus KTP, Sertifikat dan sebagainya harus mempersiapkan emosi. Kalau tidak, bisa-bisa stress sendiri.

Harapan itu masih ada
Pemilihan presiden secara langsung sebenarnya memberikan harapan kepada masyarakat. Jika dilakukan dengan adil, politisi tidak akan sembarangan meremehkan masyarakat. Mereka harus cerdas menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka memang betul-betul peduli kepada masyarakat.

Presiden baru terpilih akan hati-hati dengan kebijakannya. Apalagi kalau keberhasilannya mencapai RI1 dilakukan dengan perjuangan yang penuh lika-liku. Seorang yang baru duduk, akan memiliki ide-ide baru, sekurang-kurangnya pada awal kedudukannya.

SBY adalah presiden sekarang. Otomatis kalau jadi presiden tinggal menjalankan saja apa yang ada sekarang. Perbandingan saya adalah ibarat Rusli Zainal. Awal menjadi gubernur pada periode pertama banyak kebijakan baru yang dibuat. Tetapi pada periode kedua tidak ada perubahan yang terjadi.

Megawati adalah mantan presiden. Otomatis yang akan banyak dijalankannya, sisa-sisa pekerjaannya yang belum selesai. Meskipun Prabowo adalah orang baru, tetapi kedudukannya sebagai Wapres meragukan apakah bisa berperan penting dalam membuat perubahan. Tetapi sebagai orang baru, peluang untuk berubah besar.

JK-Win adalah orang yang benar-benar baru. Sebagai wakil presiden, tentu beliau mempunyai banyak catatan-catatan yang akan menjadi eksperimen perubahan Indonesia seandainya dia yang memegang RI1.

Dinamika adalah penting
Perubahan belum tentu bagus. Tetapi jika kita tidak berubah, maka kita akan menjadi statis. Tanpa dinamika, keadaan akan begitu-begitu saja. Dinamika membuat harapan-harapan baru, merealisasikan ide-ide baru, untuk kemajuan.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: