Mungkinkah SBY dikalahkan?

Debat capres yang dimenangkan oleh Jusuf Kalla, iklan cerdas yang apik dan kampanye dialogis yang menyentuh telah meningkatkan elektabilitas JK-Win. Namun demikian, secara umum, citra SBY yang telah lebih dahulu terbangun sepertinya masih di atas angin. Meskipun polling SMS dan sejumlah survey menunjukkan penurunan elektabilitas SBY, tetapi berbagai poling masih menempatkan nilai elektabilitas SBY yang masih di atas 50%.

Meskipun validitas polling dan survey tersebut masih dipertanyakan, tetapi di lapangan pendukung JK-Win dan Mega-Pro sedikit risau juga. Apalagi pendukung SBY kemudian mengambil manfaat dari situasi ini dan mematah-matahkan semangat pendukung kedua capres penantang. Oleh karenanya, timbul pertanyaan mungkin SBY dikalahkan?

SBY bukanlah Tuhan, SBY bukan malaikat, SBY bukan nabi. Sebagai manusia biasa tentu saja SBY bukanlah superpower. Namun faktanya, SBY masih di atas angin. Setidak-tidaknya, pencitraan yang telah dilakukannya, seakan-akan membenarkan hal tersebut.

Fakta di lapangan, JK-Win dan Mega-Pro masih belum penuh meyakinkan masyarakat bahwa Pilpres satu putaran adalah hal yang tidak masuk akal. Tim sukses mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggalang opini bahwa pernyataan satu putaran itu pernyataan yang menyesatkan, tetapi mereka masih kurang dalam mengeksploitasi bahwa satu putaran itu sangat sulit.

Satu putaran atau dua putaran sebenarnya bukan suatu masalah dalam demokrasi. Siapa pun yang menang dalam satu putaran, jika memang yang terbaik, tentu saja akan sangat membanggakan. Tentunya, jika didukung oleh beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Pemilihan berlangsung jurdil.
2. Pemilih memang memilih yang terbaik dalam pilihan mereka. Bukan asal pilih agar pemilu/pilpres cepat berakhir.
3. Pilihan yang diambil betul-betul karena calon yang terpilih menurut mereka adalah calon yang paling aspiratif bukan atas dasar perhitungan ekonomi, sebab jika memang mau ekonomis, hapuskan saja demokrasi. Pasti, tidak ada anggaran negara yang terbebani. Hapuskan DPR, negara hemat gaji DPR. Hapuskan propinsi-propinsi, negara hemat gaji gubernur. Hapuskan menteri-menteri, negara hemat gaji menteri. Hapuskan pemilu, negara hemat anggaran pemilu.
4. Pilihan bukan atas tekanan psikologi massa. Kecenderungan pecundang adalah mengikuti suara orang-orang di sekelilingnya. Oleh karenanya, pilihan yang dilakukan adalah bukan pilihan para pecundang.

JK-Win menargetkan perolehan suara 35%. Jika Megapro punya target begitu juga, berarti gabungan perolehan suara mereka adalah 70%. Jika berangkat dari asumsi dasar pendukung mereka yang 20%, modal mereka keseluruhan adalah 40%. Jika dapat mengembangkan sedikit saja menjadi 5% per pasangan, maka sudah jadi 50%. Oleh karenanya, menghambat SBY untuk tidak menang dalam satu putaran adalah realistis. Tetapi, bagaimanapun 8 Juli baru dapat kita saksikan, apakah jargon satu putaran SBY terbukti, atau hanya sekedar jargon.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: