Birokrat Indonesia Bodoh, Korup dan Jahat

Gita Wirjawan, Komisaris PT Pertamina yang digadang-gadang sebagai calon Meneg BUMN memang polos. Dengan terang-terangan dia mengungkapkan kekesalannya atas praktik birokrasi di Indonesia. Saat diwawancari Euromoney, Gita berkata:
"A lot of the bureaucrats here are not just stupid and corrupt but stupid, corrupt and evil". Dia menambahkan, "It`s with great difficulty, you`ve got to deal with the devils". Atau menurut Gita: "banyak birokrat di sini tidak hanya bodoh dan korup, bahkan bodoh, korup dan jahat. Ini hal yang sangat sulit, karena anda berurusan dengan iblis".
Terang saja pernyataannya tersebut menuai protes, di antaranya Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu.

"Saya tak bisa menerima pernyataan seperti itu. Soalnya masalah birokrat kan tergantung dari masing-masing orangnya. Mental yang seperti itu bisa juga terjadi kepada siapa saja, termasuk di kalangan swasta,”
kata Said Didu, Sekretaris Kementerian Negara BUMN di Jakarta, Rabu (29/7) seperti dilansir dari rilis yang diterima Rakyat Merdeka Online.

Realitas yang pahit
Said Didu sebagai birokrat pantas tersinggung. Said Didu benar tidak semua birokrat seperti yang dituduhkan Gita. Tapi, jumlah birokrat yang demikian tidak banyak. Bisa kita hitung dengan jari.

Pengaruh Lingkungan
Birokrat-birokrat sebenarnya banyak yang asal muasalnya sangat bagus dan terpuji. Saat kuliah, kebanyakan dari mereka idealis, pintar dan saleh. Tetapi lepas dari pendidikan, mereka dihadapkan pada kenyataan pahit, apakah mempertahankan idealisme atau mengikuti arus. Dari proses masuk, promosi dan sebagainya mereka harus bermain uang dan kolusi. Selanjutnya, setelah bekerja harus akomodatif dengan perilaku-perilaku korup atasan. Meski mendongkol, mereka harus menerima. Setelah bertahun-tahun, dari sekedar orang yang terpaksa mendiamkan perilaku korup, mereka akhirnya menjadi orang yang rela berperilaku korup.

1 komentar:

Ghobro mengatakan...

Ghobro