Rusli Zainal pun tertarik publikasi blog

Sukses Jusuf Kalla dengan kompasiananya ternyata banyak mengilhami pemimpin-pemimpin bangsa ini. Lewat komunitas blogger bertuah, Rusli Zainal mencoba mensosialisasikan dirinya. Sebuah kontes bertaja Rusli Zainal sang visioner pun dimulai.

Konsep tersebut memang terkesan elit. Terkesan populis. Bagi saya yang sudah terpesona kepribadian JK-Win yang sederhana, tema yang cenderung mengagung-agungkan tersebut kurang mensimpatikkan. Tema ini hampir serupa dengan langkah tim sukses SBY yang suka jaim.

Sebagai orang Riau tentu senang kalau ada pemimpin Riau yang tampil di pentas nasional. Tetapi tentunya pemimpin yang bermartabat. Sebagai bagian dari orang luar Jawa, tentu saja saya prihatin dengan tingkah polanya para pemimpin nasional asal luar Jawa saat ini. Mereka selama ini berkoar-koar bahwa pusat tidak adil terhadap luar Jawa. Tetapi ketika ada orang luar Jawa diterima sebagai calon pimpinan nasional, mereka tidak berani bersuara.

Saya bukannya tidak setuju dengan pemimpin Jawa. Tidak. Sebagai orang yang mayoritas di Indonesia ini, wajar jika mereka menjadi pemimpin. Tetapi kalau ada etnis non Jawa yang berhasil naik ke pentas kepemimpinan nasional, ini akan menjadi sejarah baru bagi Indonesia dengan alasan :
1. Bahwa Indonesia memang betul-betul milik seluruh warga Indonesia, tanpa perbedaan etnis.
2. Kesan dan rumor bahwa Jawa menjajah Riau, menjajah Aceh, menjajah Pasundan, menjajah Papua, menjajah Kalimantan dan sebagainya akan hilang.
3. Isu ketidakadilan daerah yang berpuluh-puluh tahun hilang timbul akan redup dengan sendirinya.
4. Akan ada harapan dan rasa memiliki yang lebih tinggi kepada etnis-etnis yang ada di Indonesia. Semua warga Indonesia memiliki hak yang sama, termasuk menjadi pemimpin di negeri ini. Pernyataan tersebut akan berkumandang di seluruh negeri, sebagaimana etnis hitam (negro) memiliki perasaan ini saat ini di Amerika pasca terpilihnya Obama.

Oleh karenanya, tindak tanduk pemimpin luar Jawa yang mengabaikan kesempatan ini menimbulkan tidak simpati kepada saya. Apa sih yang mereka perjuangkan? Dalam kampanye mereka berkoar-koar, kami akan mengeliminasi ketidakadilan pada daerah ini. Tetapi nyatanya apa? Kita lihat, dari Riau ada Lukman Edy yang menjilat SBY, dari Sumbar ada Gamawan Fauzi , dari Sumsel ada Hatta Rajasa dan sebagainya.

Saya tentu tidak akan hati-hati dengan pernyataan seperti "pusat telah sewenang-wenang", pembagian "bagi hasil minyak bumi tidak adil", "pembagian DAK tidak adil" dan sebagainya. Ternyata, itu hanya retorika.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: