Penggabungan kembali Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Salah satu isu yang menjadi topik debat cawapres tadi malam adalah penggabungan kembali departemen pendidikan dan kebudayaan. Hampir semua cawapres setuju. Alasan yang melatarbelakangi adalah di samping kualitas pendidikan yang merosot, juga bahwa tujuan pendidikan adalah meningkatkan kebudayaan. Apakah pendidikan hanya untuk kebudayaan? Mari kita lihat pengalaman sejarah pendidikan di Indonesia. Sebagai generasi yang mengalami pendidikan dalam departemen pendidikan dan kebudayaan, nuansa kebudayaan dalam pendidikan indonesia memang sangat tinggi. Prestasi sekolah seringkali dinilai dari prestasi di bidang kebudayaan, khususnya kesenian.

Padahal pendidikan juga bertanggung jawab untuk pengembangan iptek, manajemen, seni dan kepribadian yang positif, nasionalis dan imtaq. Kesemua nilai tersebut harus dimiliki oleh seluruh lulusan pendidikan. Tapi, manusia memiliki keterbatasan, minimal mereka harus menguasai salah satu bidang di antara iptek dan seni budaya.

Pendidikan Indonesia terlalu lama menekankan aspek kebudayaan dan kurang memperhatikan IPTEK. Karenanya, salah satu ketinggalan besar dalam pendidikan indonesia adalah pengembangan IPTEK. Meskipun departemen pendidikan dan kebudayaan telah dipisahkan, tetapi nuansa penekanan kebudayaan dalam pendidikan kita masih sangat terasa. Oleh karenanya, apakah mesti digabungkan kembali departemen pendidikan dan kebudayaan? Atau malah digabungkan menristek dengan departemen pendidikan? Atau tetap terpisah seperti saat ini?

0 komentar: