pendidikan politik sudah gagal

Melejitnya isu-isu kampanye yang jauh dari pembeberan visi dan misi sungguh mengecewakan. Sebagai anak bangsa yang menginginkan negara ini menjadi negara yang lebih baik, saya kecewa. Sebagai anak bangsa yang menyadari bahwa Indonesia sebenarnya memiliki beraneka ragam potensi yang belum terangkat, saya prihatin.

Salah satu isu yang paling panas akhir-akhir ini adalah isu selebaran agama Herawati. Dalam kampanye JK-Win di Medan, ada selebaran bahwa istri Boediono seorang Katolik. Selebaran tersebut didasarkan pada pemberitaan Tabloid Monitor. Tim sukses SBY a.k.a. Rizal Mallarangeng menuduh Tim sukses JK-Win yang melakukan. Sementara itu, Tim Sukses JK-Win menuduh, ini adalah skenario yang dilakukan Tim Sukses SBY yang melakukan. Siapa yang benar? Hanya Allah yang tahu.

Terlepas dari siapa yang melakukan, kita harus prihatin, bahwa akhir-akhir ini, kampanye lebih terfokus kepada siapa yang lebih berkepribadian, siapa yang lebih jujur, siapa yang lebih santun, ....... dan sebagainya. Akibatnya, materi kampanye jauh dari solusi-solusi untuk perbaikan bangsa. Akan dikemanakan negara ini jika seseorang terpilih? Tidak jelas.

Sistem politik Indonesia telah gagal. Para politisi telah gagal memberikan suasana kampanye yang memberikan ruang bagi pemilih yang cerdas untuk berpikir dan menimbang dengan rasional. Kenapa mereka tidak bertarung ide? Takut? Kalau takut kenapa harus maju?

Ketika isu neolib muncul, tidak ada usaha untuk membela neolib. Neolib bukanlah komunisme. Sebagai suatu sistem ekonomi, dia adalah alternatif. Seharusnya masing-masing capres bertarung bahwa antara sosialisme dan neolib, mana yang lebih baik bagi masa depan bangsa? Bukannya bertarung bahwa sianu neolib, saya bukan neolib.

Isu pelanggaran HAM kemudian juga mengemuka. Kenapa isu ini muncul? Jika memang mau diperdebatkan, seharusnya masing-masing capres mengemukakan ide, bahwa jika dia terpilih nanti, bahwa akan mengusulkan bahwa salah satu persyaratan capres adalah bebas dari pelanggaran HAM. Kenapa ketika mencalonkan diri, tidak ada yang protes mengenai isu itu?

Isu agama sebenarnya sah-sah saja dalam kampanye. Di negara semaju Amerika pun isu agama ada. Pihak yang diserang seharusnya menunjukkan, jika isu salah. Tunjukkan secara nyata. Jika tidak terbukti, tim yang menyerang yang akan mendapatkan nilai negatif. Jika ternyata tuduhan itu benar, mereka seharusnya membela. Bukankah ini negara Pancasila. Siapa pun dengan agama apa pun memiliki hak yang sama dalam negara ini. Oleh karenanya, sebenarnya kalau tuduhan itu benar, tinggal memberi jawaban:" Apakah seorang pemimpin yang kebetulan muslim akan menjamin bahwa mereka benar-benar akan memberi kemaslahatan umat?". Atau,"Benar, saya tahu agamanya ..... Tetapi saya tahu bahwa beliau seseorang negarawan sejati. Dia tidak akan merugikan kaum muslim yang mayoritas. Sebaliknya memiliki komitmen untuk mensejahterakan bangsa yang sebagian besar muslim ini." Belum tentu, masyarakat muslim tidak menerima seorang yang non muslim sebagai pemimpin, apalagi kalau sekedar isterinya, jika itu memang benar. Karena dalam kenyataan sejarah, pemimpin muslim di negeri ini pun banyak juga yang "mengadali" rekannya. Begitu juga sebaliknya.

Salah satu pertarungan lain yang tidak sehat adalah tentang kesantunan. Masing-masing capres sibuk bertarung bahwa merekalah yang paling santun. Paling beretika. Paling timur. Apakah hal ini akan menyelesaikan persoalan bangsa?

Sebagai seseorang yang sudah pas dengan ide-ide JK-Win, saya tetap akan memilih. Tetapi, saya berharap ke depannya, masing-masing capres dan tim suksesnya, termasuk tim sukses JK-Win, marilah bertarung untuk menggugat "rasionalitas" pemilih, bukan "emosi"nya.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: