Orang Tua Dahulu dan Orang Tua Sekarang

Pengumuman UN menjadi sesuatu yang menghebohkan. Dramatisasi peristiwa ini tidak dilewatkan oleh media. Sejumlah kebodohan diangkat menjadi musibah. Orang yang gagal menjadi korban. Dan sebagainya, dan sebagainya.

UN sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan kita. Di tahun 50'an dulu saja, aktivitas seperti ini telah ada. Pada era 80 - 90 an, namanya EBTANAS. Pada masa-masa itu, tidak ada yang istimewa. Yang tidak lulus, mengulang. Demikianlah kewajarannya.

Zaman sekarang, yang tidak lulus UN masih diberi kesempatan mengikuti Paket-paket yang bermacam ragam namanya. Anehnya, masih ada saja pihak-pihak yang merasa tidak adil. Malah ada yang mengatakan UN melanggar HAM. Aneh.

Ketika zaman EBTANAS guru, pengawas betul-betul menggelisahkan. Jangan harap minta bantuan kepada guru, bahkan sekalipun misalnya orang tua sendiri. Bukannya dibantu, malah diberi sanksi.

Sebenarnya iri saya dengan siswa zaman sekarang. Guru, kepala sekolah dan pengawas bekerja sama meluluskan siswa sebanyak-banyaknya. Ketika ada satu dua orang yang tidak lolos, guru bahkan seakan-akan menambah romantisnya suasana. Kalau dulu kami dianjurkan tegar, sekarang malah perasaan iba dikuat-kuatkan.

Kalau dulu mengadu kepada orang tua jangan harap dikasihani, malah hantaman yang diterima. Kalau sekarang, jangan coba-coba. Bisa-bisa berurusan ke kepolisian.

0 komentar: