Mungkinkah Demokrat mengulang sukses Golkar

Seandainya saja melanjutkan chemistry SBY-JK, barangkali tidak akan ada protes dari masyarakat tentang jargon pemilu satu putaran. Bahkan seandainya LSI mengatakan keterpilihan pasangan ini 80% atau lebih, mungkin umum bisa menerima. Lalu kenapa SBY begitu ngotot memilih Boediono? Apakah SBY telah melakukan suatu kesalahan keputusan?

SBY harus kita akui adalah sosok yang kemampuan politisnya sangat tinggi. Lama bertugas sebagai Kasospol ABRI tentu memberikan pengalaman dan wawasan yang tinggi dan mengasah kemampuan berpolitik SBY. Selama memerintah, SBY mampu meredam pihak-pihak yang kontra dengan pemerintahannya. Dan dengan kemampuannya, SBY berhasil membesarkan Demokrat.

Berpasangan dengan "sandal jepit" pun menang
Hasil pemilu legislatif 2009 memperlihatkan hasil pelaksanaan strategi politik yang canggih dari SBY tersebut. Demokrat yang pada 2004 telah berhasil menembus divisi utama liga politik Indonesia yang kompetisinya sangat ketat, pada 2009 berhasil meraih scudeto. SBY berhasil menerjunbebaskan PPP dan PKB ke papan bawah klasemen. Sementara PAN, Golkar dan PDIP mengalami penurunan skor yang sangat tajam. Namun masih lebih baik dari PBB, partai yang pernah merasai divisi utama liga politik Indonesia, harus pasrah menerima nasib turun ke divisi I liga politik Indonesia.

Dengan prestasi Demokrat yang seprestisius itu, ketika ada premis bahwa siapa pun yang akan menjadi pasangan SBY, bahkan "sandal jepit" pun dipasangkan dengan SBY, SBY akan tetap menang, tidak ada yang berani membantah. Bahkan para politisi senior yang telah makan asam garam pun terpaku diam. Masyarakat pun menjadi sinis ketika Amin Rais mengusung Hatta Rajasa dan PKS mengusung Hidayat Nur Wahid. Kedua kubu tersebut dinilai hanya ingin menumpang mudah kegemilangan SBY.

Boediono merugikan atau menguntungkan?
Tapi ternyata, premis tersebut tidak sepenuhnya benar. Sesaat pasca SBY mengumumkan Boediono sebagai pasangannya, ucapan spontan Amien Rais yang merasa kecewa dengan tuduhan neolib ternyata berdampak panjang. PKS yang semula mengutarakan kekecewaannya dengan meragukan kemampuan politis Boediono, kemudian ikut mendukung pernyataan Amin Rais. PKS bahkan sempat mengumpulkan partai-partai papan tengah pendukung SBY. Elit PKS pun sempat mengeluarkan pernyataan bahwa survey internal PKS menyatakan pemilih PKS lebih memilih JK-Win.

Dengan memilih Boediono, SBY ternyata mengalami kerugian yang luar biasa:
1. Isu neolib kemudian menjadi alasan bagi pendukung-pendukung partai koalisi yang memang kecewa dengan tidak terpilihnya usungan mereka untuk berpindah ke pasangan lain yang dinilai lebih prorakyat.
2. Sisi agama Boediono yang longgar menjadikan alasan bagi pendukung untuk merapat ke kubu lain yang dinilai lebih agamis.
3. Isu meragukan kemampuan polkam Boediono, sehingga Boediono tidak akan sanggup menjadi supir cadangan menjadikan sebagian pendukung pindah.
4. Ketidakterkenalan Boediono menjadikan SBY memiliki pekerjaan ekstra untuk memperkenalkan Boediono. Isu neolib sedikit banyak telah membantu perkenalan tersebut, tetapi masih banyak sisi lain Boediono yang harus diperkenalkan SBY.
Dengan segala kerugian tersebut, tentu logis jika kita bertanya-tanya kenapa SBY memilih Boediono?

Mungkinkah Demokrat mengulang kesuksesan Golkar di era Orde Baru?
Menarik sekali ucapan SBY di depan pendukungnya beberapa saat setelah pemilu legislatif berakhir. SBY mengingatkan sejarah partai-partai di mana, tidak ada partai yang secara kontinyu menjadi pemenang dalam setiap pemilihan. Oleh karenanya, tantangan berat bagi SBY dan Demokrat adalah melanjutkan kemenangan Demokrat di 2014.

Menurut Faisal Basri dalam wawancaranya, Demokrat berencana mengusung Mayjen Pramono Edhie Wibowo sebagai capres Demokrat 2014. Jika SBY memenangkan pilpres, dengan Wapres Boediono yang dinilai tidak memiliki dukungan politis, SBY dan Demokrat akan dengan mudah melanjutkan Dinasti Sarwo Edhie di tampuk pemerintahan Indonesia.

Melanjutkan JK sebagai cawapres tentu akan menjadi ancaman bagi demokrat. Dengan berakhirnya peluang SBY untuk menjadi presiden, JK dan Golkar berpeluang merebut RI. Demikian pula dengan cawapres-cawapres lain, seumpama Hatta Rajasa dari PAN dan Hidayat Nur Wahid dari PKS. Tetapi benarkah, Boediono tidak menjadi ancaman bagi Demokrat?

Sisi agamis Boediono yang kurang bukan berarti bahwa Boediono tidak layak dijual seandainya Boediono sukses menjadi wapres. Dalam lima tahun, bisa saja sosok Boediono berubah. Dan dalam usahanya mempertahankan hegemoni kekuasaan, Demokrat dan koalisinya pun memiliki kewajiban untuk membela Boediono. Bisa jadi Boediono akan memukau para partai-partai berlabel agama yang sekarang membela SBY. Bisa jadi, Boediono akan menjadi kata kunci untuk kebangkitan mereka.

Di sisi lain, jika Megawati pensiun dari politik, bukan tidak mungkin jika kemudian Boediono didukung PDIP. Counter selama 5 tahun oleh SBY dan koalisinya untuk mengesankan Boediono pro rakyat akan memudahkan Boediono untuk diterima massa marhaenis.

Karenanya, SBY menghadapi dua ujian besar untuk rencananya melanjutkan hegemoni Demokrat dan keluarga Edhie Wibowo:
1. Benarkah SBY akan berhasil sebagai pemenang di pilpres ini mengingat meingkatnya elektabilitas JK-Win dan Megapro.
2. Jika berhasil duduk di RI1, SBY dan Demokrat akan menghadapi PR berat buat mencegah kenaikan pamor Boediono sendiri. Usaha yang bisa saja menyebabkan kontrol mereka terhadap partai koalisi menjadi kurang. Bisa jadi, karena terlampau kuat mengontrol Boediono, justru tokoh koalisi atau oposi yang menjadi berkibar namanya. Padahal di samping itu, SBY dan Demokrat juga memiliki PR lain untuk mengatrol popularitas Pramono.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: