Koalisi Prabowo dan JK ke SBY, mungkinkah

Secara tidak sengaja saya membaca komentar salah seorang pembaca pada sebuah blog yang bunyinya sebagai berikut:
Kalau dalam putaran kedua, SBY berhadapan dengan JK, sebaiknya pak Prabowo bergabung saja dengan SBY, dan kalau SBY berhadapan dengan Prabowo, sebaiknya pak JK bergabung saja dengan SBY

Ini adalah ungkapan polos dari seseorang yang merasa "mencintai bangsa" dan merasa yakin bahwa SBY akan berhadapan dengan salah satu pasangan Megapro atau JK-Win. Saya menghormati pendiriannya yang menganggap SBY sebagai calon pemimpin terbaik bagi bangsa, sama seperti saya juga berharap agar dia menghormati pendirian saya bahwa JK-Win pasangan pemimpin yang terbaik bagi negara ke depan. Namun demikian, saya ingin menanggapi berdasarkan fakta-fakta sejarah.

Kita tahu bahwa yang bertarung di dalam perebutan putra terbaik bangsa, calon nakhoda negeri ini lima tahun ke depan, semuanya adalah negarawan terbaik bangsa. Sebagai seorang negarawan terbaik, mereka memiliki kepribadian yang terbaik dan teruji, melebihi rata-rata kita. Namun demikian mereka masih tetap manusia biasa, yang bisa merasa sakit hati.

Mega-Pro mendukung SBY?
Megawati secara jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya kepada SBY. Dukungannya yang secara sengaja ditujukan kepada JK dalam debat capres memperlihatkan secara telanjang kepada masyarakat bahwa Megawati tidak mungkin bergabung dengan SBY. Bahkan Megawati secara sengaja mengungkapkan peristiwa 27 Juli, peristiwa perebutan pimpinan PDI antara Megawati dengan Suryadi, dan Megawati menegaskan bahwa dia bisa saja disebut korban pelanggaran HAM. Isu ini tidak hanya sekedar pembelaan terhadap isu pelanggaran HAM Prabowo, namun juga menunjukkan bahwa kalau diungkit Megawati juga bisa melontarkan tuduhan yang sama kepada SBY yang ikut berperan dalam peristiwa itu. Isu ini juga menunjukkan bahwa Megawati yang korban pelanggaran HAM oleh SBY dapat melupakan peristiwa itu sebagaimana dia juga bisa memaafkan alm. Soeharto, namun SBY telah membalasnya dengan kepahitan. Apa yang dilakukan oleh SBY jauh lebih parah daripada pelanggaran HAM Soeharto, karena SBY telah mematikan karir politik Megawati dan PDIP. Diakui atau tidak, Megawati dan PDIP yang pernah menjadi ikon perjuangan rakyat, sekarang telah tenggelam. Oleh karenanya, wajar Megawati menunjukkan permusuhannya kepada SBY dan itu berarti tidak mungkin Megawati bergabung dengan SBY.

Wiranto mendukung SBY?
Wiranto adalah perwira yang cemerlang di akhir era 90'an. Dia dipercaya Soeharto sebagai panglima ABRI saat itu. Anak seorang guru SD ini kebetulan menjadi pimpinan di saat negara sedang gonjang-ganjing. Saat itulah, bawahannya, Kasospol ABRI saat itu, melayangkan surat kepada Soeharto. Kontan saja, sejak itu nama Wiranto tercoreng dengan isu kudeta.

Saat masalah Timor Timur bergejolak, Wiranto didukung oleh Kasternya saat itu untuk melakukan jajak pendapat. Jajak pendapat dilakukan, dan Wiranto berhadapan dengan runyamnya masalah pengungsi dan berbagai kasus sehingga mendapatkan isu pelanggaran HAM.

Penipuan informasi tersebut tentu saja sangat menyakitkan. Tindakan tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang yang tidak punya hati nurani. Mungkin karena inilah Wiranto menamakan partainya, Partai Hati Nurani Rakyat.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: