Kalau kampanye tidak saling serang

Sibuk dengan Rusli Zainal sang visioner bukan berarti lupa dengan kondisi real politik Indonesia. Satu hal yang menarik perhatian adalah pernyataan Tim Sukses SBY-Boediono, bahwa saling serang tidak etis. Ungkapan tersebut disampaikan Syarif Hassan menanggapi pernyataan Megawati bahwa SBY sombong dan tidak etis.

Kode etik kampanye Indonesia sampai saat ini belum ada. Jika kemudian kode etik tersebut diratifikasi dan melarang saling serang, apa jadinya demokrasi kita. Pemilihan presiden adalah kompetisi sebagaimana kompetisi-kompetisi yang lain. Kompetisi tentu saja mengandung unsur serang - bertahan. Oleh karenanya kalau serangan tidak boleh dilakukan, kompetisi apa itu?

Saya dan mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia kecewa dengan debat capres perdana karena tidak dapat dikatakan debat. Penyebabnya, karena masing-masing capres seakan-akan berkomitmen untuk menyerang. Lalu, seperti apakah demokrasi kita ini?

Tulisan ini bagian dari :
SBY

0 komentar: