Demi satu putaran, rasionalitas pun diabaikan

Tim sukses SBY sangat ingin SBY menang satu putaran. Alasan dibalik hal tersebut adalah : 1. Pertumbuhan elektabilitas JK-Win yang cenderung naik.
Jika pemilu diperpanjang, maka total elektabilitas JK-Win akan menjadi sangat jauh dibandingkan SBY. Trend yang terlihat bahwa setiap hari, JK-Win rata-rata dapat mengumpulkan tambahan pendukung 0,5%. Artinya selama 30 hari (satu bulan) JK-Win menambah dukungan 15%. Kalau dua bulan berarti 30%, demikian seterusnya. Jika Pemilu berlangsung dua putaran, otomatis waktu yang didapat JK-Win untuk mengumpulkan dukungan bertambah panjang. Minimal waktu yang didapat JK-Win, 3 bulan. 3 x 15%, berarti pertambahan dukungan JK-Win adalah 45%.

2. Persatuan kubu MegaPro dan JK-Win
Sudah hampir pasti, kubu MegaPro dan JK-Win akan bergabung pada Pilpres putaran kedua. Artinya jika JK mendapatkan 20% dan MegaPro 20%, maka koalisi di antara keduanya berarti sudah total 40%. Bagaimana jika keduanya sama-sama 25%?

3. Rapuhnya koalisi SBY
Kubu SBY saat ini cenderung ragu-ragu dengan pasangan ini. Apabila JK-Win atau MegaPro berhasil melangkah ke Pilpres putaran dua, kubu ini berpeluang menggoyang dukungan koalisi SBY. Bukan tidak mungkin salah satu atau beberapa anggota koalisi menyeberang ke koalisi ini.

4. Meningkatnya soliditas koalisi kerakyatan
Saat ini, dalam tubuh Golkar misalnya, ada sebagian pengurusnya yang mengarah ke SBY. Pengkhianatan ini muncul karena ketakutan harus berada di pihak oposisi. Tetapi jika JK-Win melaju hingga ke putaran kedua, soliditas Golkar tentu saja akan kuat.

Dengan 4 alasan di atas, wajarlah kalau SBY ingin menang satu putaran. Sebab jika gagal menang di putaran pertama, SBY berpeluang kalah di putaran kedua.

Untuk memenuhi target satu putaran tersebut, berbagai strategi dilakukan SBY, seperti:
1. Menekan pemilih dengan menghasilkan survey yang memenangkan Demokrat pada angka 71%.
Pemilih yang cenderung bosan dengan aktivitas pemilu, tentu saja berharap agar proses pemilihan berlangsung secepatnya. Artinya, dengan meyakinkan pemilih bahwa SBY menang 71%, pemilih akan cenderung memilih pasangan ini agar kegiatan pilpres segera berakhir.

2. Pernyataan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid bahwa jika Pemilu satu putaran akan bisa dibangun jembatan Suramadu yang lain.
Pernyataan ini sebenarnya tidak rasional karena seberapa besarkah biaya pemilu sehingga biaya pelaksanaan pemilu dapat membangun Suramadu. Pernyataan ini hanya sekedar agitasi agar masyarakat memilih pasangan yang diperkirakan menang satu putaran sebagaimana yang diarahkan melalui media survey tadi.

3. Pernyataan Sekjen PKB Lukman Edy bahwa menurut terawang kiai khos NU, SBY menang 60%.
Inilah pernyataan yang betul-betul sekedar mempermainkan emosi pemilih dan dengan sengaja menghilangkan rasionalitas pemilih. Pernyataan ini sebenarnya sangat merugikan kiai-kiai, karena apabila meleset, maka kiai akan kehilangan kepercayaan dari umatnya.

Tapi dari kekuasaan, segalanya bisa dihalalkan. Bahkan PKB pun telah mengubah motonya, "Maju Tak Gentar Membela Yang Menang" walaupun belum tentu yang diperkirakannya betul-betul bakal menang.

Tulisan ini bagian dari :

  1. JK-Win
  2. SBY

4 komentar:

wyd mengatakan...

jangan percaya terawang... seringkali menyesatkan :)

siapa pun yang menang semoga bisa membawa indonesia lebih baik

ghobro mengatakan...

yup, pemimpin yang betul-betul memiliki strategi untuk kejayaan bangsa, bukan sekedar mencari pujian dari rakyat

Fifi mengatakan...

Di lingkungan saya, elektabilitas JK makin meningkat (termasuk saya sendiri adalah pendukung baru JK, hehe). Sayangnya banyak masyarakat terpelajar yang masih juga termakan jargon2 1 putaran yg dihembuskan tim sukses SBY itu. Aneh... :/

ghobro mengatakan...

pemimpin indonesia bukan hanya untuk membangun negara tetapi juga membangun bangsa. Cara kampanye dengan memainkan psikologis, bukan dengan penawaran ide yang rasional untuk negara dan bangsa yang lebih baik, adalah cara pendidikan politik yang hanya memikirkan kepentingan sesaat