Masa depan Golkar pasca pilpres 2009

Isu Munaslub dipercepat dibenarkan oleh petinggi Golkar Muladi, hanya saja dengan istilah lain Munas dipercepat. Munaslub ini isunya adalah untuk menukar Ketua Umum yang saat ini dipegang oleh Jusuf Kalla. Keluarnya ide Munaslub di sela-sela kampanye Pilpres tentu saja akan ditanggapi negatif oleh para pendukung JK di lapangan sebagai salah satu upaya menjegal JK-Win memenangkan Pilpres. Skenario terburuk JK Kalla
JK bagi yang kecewa dengan penampilan SBY adalah alternatif presiden pilihan. Bagi sebagian besar pemilih Golkar, goyangan terhadap JK tentu saja hal yang menyakitkan. Seandainya JK gagal, tentu saja tingkah pola elit-elit Golkar akan menjadi penyebab utama.

Indonesia Timur telah terbukti sebagai basis terakhir Golkar di saat Golkar terpuruk. Pemilu 1999 telah membuktikan hal itu. Pamor BJ. Habibie sebagai tokoh masyarakat dari Indonesia timur menyebabkan suara golkar solid di Indonesia Timur dan daerah-daerah perantauannya, teristimewa Riau, Sumsel dan Lampung. Popularitas tokoh-tokoh timur di Golkar menjadi brand tersendiri bagi massa ini. Di Riau misalnya, soliditas Golkar nyata di Indragiri Hilir, kabupaten dengan mayoritas penduduknya keturunan etnis Bugis.

Pemilu 2009 pun memperlihatkan kembali bahwa di Indonesia Timur dan daerah etnis Bugislah Golkar tetap berjaya. Di luar itu, hanya Jawa Baratlah yang memberikan sumbangan cukup berarti. Namun demikian, kenyataan itu tidaklah serta merta menyebabkan aspirasi mereka menjadi panglima. Uu Rukmana misalnya mati-matian mendukung JK jadi capres. Tapi, tokoh-tokoh dari daerah-daerah di mana Golkar jadi pecundang, justru memiliki manuver yang berarti, menghambat JK menjadi capres.

Tulisan ini bagian dari :
  1. JK-Win
  2. SBY

0 komentar: