Jusuf Kalla dan Golkar

Acara Presiden Pilihan yang ditaja TV One bekerja sama dengan KADIN terbilang sukses. Dua pembicara yang tampil, berhasil memukau pemirsa. Teristimewa bagi JK. JK yang semula kurang optimal mempromosikan dirinya, sekarang mendapat kesempatan. JK yang mungkin selama ini masih ragu-ragu berhadapan dengan SBY, karena takut akan menjadi bumerang seandainya bekerja sama kembali dengan SBY, dapat menyampaikan segala yang menjadi kemengkalan hatinya, karena sekarang tidak ada lagi beban baginya, karena toh, sudah pasti ia berhadapan dengan SBY. Dalam penampilan yang disiarkan langsung tersebut ada 3 macam tanggapan pemirsa.
  • Pemirsa yang masih fanatik buta dengan SBY mengatakan penampilan SBY yang memukau.
  • Pemirsa yang tanpa beban dengan terang-terangan mengatakan JK lebih memukau.
  • Pemirsa yang masih simpatik dengan SBY mengatakan yang menang Kadin.
  • Pemirsa yang belum simpatik dengan JK mengatakan JK memukau, tetapi sayangnya JK Golkar.
Fanatisan Buta
Dari empat macam tanggapan pemirsa dapat kita lihat ragam calon pemilih kita. Masih banyak fanatisan yang buta yang selalu menganggap bahwa calonnyalah yang terbaik, walaupun kenyataannya bisa saja berbeda. Ada bagian masyarakat yang fanatik buta dengan SBY, ada yang fanatik buta dengan Prabowo, ada yang fanatik buta dengan Megawati, ada yang fanatik buta dengan Wiranto, ada yang fanatik buta dengan JK.

Kelompok-kelompok fanatik adalah mereka yang memang memiliki emosi yang tinggi dengan calon. Kelompok masyarakat Indonesia Timur misalnya, baik yang berada di Indonesia Timur sendiri maupun yang berada di pesisir Timur Sumatera dan Kepulauan Timur Sumatera (Riau Pesisir, Kepri, Jambi Pesisir, Sumsel Pesisir, Bangka Belitung dan Lampung Pesisir) akan tetap memilih JK, sejelek apapun JK, karena JKlah yang darahnya paling dekat dengan mereka. Demikian pula sebagian warga Sumatera Barat yang menganggap kemenangan JK adalah kemenangan Minang, karena jika JK menang yang menjadi Bundo Kandung adalah orang Minang. Kelompok ini tidak akan mau tahu, yang penting JK, urang sumando, jadi presiden dan istri JK, bundo kandung, menjadi ibu negara.

Kelompok Marhaenisme telah mematrikan Megawati Soekarnoputri sebagai perlambang Soekarno. Sejelek apapun Megawati, mereka tetap akan memilih Megawati.

Kelompok-kelompok yang sudah jatuh cinta dengan penampilan dan pamor SBY yang memikat, akan tetap memilih SBY, selambat dan seragu apa pun SBY.

Demikian pula pendukung Prabowo dan Wiranto. Mereka akan tetap ngotot.

Namun berapakah jumlah mereka? Belum dapat dipastikan, namun sepertinya jumlah kaum fanatik ini di Indonesia sudah berkurang. Terutama sekali fanatisan ideologis. Namun fanatisan darah, mungkin masih memadai. Jumlah kaum fanatis, ini tidak kurang dari 40% pemilih Indonesia.

Kaum fanatisan memang buta, sejelek apa pun idola mereka, akan tetap dianggap bagus. Prestasi kecil dibesar-besarkan. Kelemahan besar, dikecil-kecilkan.

Simpatisan
Ada sekelompok orang yang simpatik dengan salah satu calon, utamanya SBY. Namun demikian, simpatisan tidaklah sebuta fanatisan. Sebagai contoh, pemirsa yang mengatakan Kadin lebih memukau adalah pemirsa yang di dalam hatinya masih simpatik dengan SBY, namun dia mengakui bahwa JK lebih mengesankan dalam acara tersebut. Dibandingkan dengan fanatisan, SBY memiliki calon pemilih dari kelompok inilah yang terbesar.

Dari manakah simpatisan SBY datang? Simpatisan SBY adalah warga yang sudah sangat kecewa dengan politik zaman orde baru yang penuh tipu muslihat dan janji-janji palsu. Mereka sudah terlanjur menganggap politisi sebagai orang-orang yang NATO, No Action Talk Only. Kelompok ini pada mulanya mencoba memilih Megawati melalui PDIP di tahun 1999, namun ternyata Megawati mengecewakan. Sebagian juga memilih PAN, namun ternyata Amin Rais juga mengecewakan. Ada yang memilih PKB, namun Gus Dur juga mengecewakan. Kelompok-kelompok yang kecewa ini kemudian cenderung untuk memilih orang/partai yang kurang bicara. Dalam kategori, partai PKS termasuk partai yang dalam kurun 10 tahun yang lalu termasuk partai yang kurang banyak bicara. Dan dari segi tokoh, SBY adalah tokoh yang kurang banyak berbicara. Dari sini dapat kita lihat logika, bahwa para pendukung PKS termasuk mereka-mereka yang mengidolakan SBY sebagai presiden.

Calon presiden pesaing SBY, yang tidak banyak berbicara, tetapi ungkapannya selalu mengandung kebenaran, apalagi diungkapkan tanpa kebencian, dan memiliki bukti-bukti kinerja akan mengurangi simpati para simpatisan ini kepada SBY. JK hampir memiliki karakteristik ini. Jika dia dapat berhati-hati menyerang secara lugas, simpatisan SBY akan menyusut. Namun, untuk berpindah proses ini bukanlah mudah. Artinya, mereka mulai memikirkan JK, tapi masih hati-hati untuk melepaskan SBY.

Karena itulah ungkapannya, "Yang menang adalah KADIN".

Pemilih dan partai
Pemilihan presiden pada umumnya pemilihan person. Pilpres 2004 membuktikan bahwa partai sebesar Golkar dan koalisinya PDIP tidak menjamin bahwa pemilihnya akan memilih capres yang diusung dari partai tersebut.

Demikian pula periode ini, akankah terjadi kebalikannya? SBY yang didukung oleh partai sebesar Demokrat dengan 4 partai tengah ditambah belasan partai-partai kecil adalah kekuatan dahsyat yang dari hitung-hitungan hasil pileg, pemilihnya adalah 60%. Akankah kejadian 2004 terulang dan SBY yang dengan koalisinya yang besar terjungkal? Bisa saja.

Tapi ada yang membedakan. Golkar dan PDIP adalah partai yang sangat mengecewakan pemilih Indonesia. Bahwa ada yang memilih Golkar saat itu karena menganggap hanya Golkarlah tempat pelarian dari PDIP yang incumbent saat itu. Pemilih PDIP bagaimanapun sulit untuk pindah ke partai berbasis keagamaan, sebaliknya Demokrat yang baru muncul saat itu belum teruji.

Kinerja dan birokrasi di Golkar adalah hal yang paling tidak berkesan bagi masyarakat. Meskipun secara umum Golkar menang, tetapi lebih besar lagi jumlah yang tidak memilih mereka. Dan kelompok inilah yang akhirnya bersatu memenangkan SBY di 2004. Oleh karenanya, satu beban yang harus dihadapi JK adalah bagaimana menjawab mereka yang "simpatik pada JK, tapi tidak simpatik pada Golkar."?
Tulisan ini bagian dari :
SBY

0 komentar: